Posts mit dem Label about life werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label about life werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Sonntag, 12. Mai 2013

Das Leben geht weiter .

saya kangen menulis ,...
banyak sekali bahan yang seharusnya bisa dituliskan
dari kehidupan sehari-hari, yang tampaknya biasa-biasa saja, tapi sebenarnya selalu membawa warna baru
dari renungan-lamunan-pikiran-atau sekedar emosi emosi gila yang sering datang tanpa diminta
dan tentunya.. dari mengamati hiruk pikuk hidup .

sedihnya,
intensitas menulis yang makin menurun
membikin tingkat kesulitan menulis jadi semakin tinggi ( setidaknya untuk saya )
susah sekali, bahkan untuk memutuskan kalimat pertama dari paragraf pembuka
ide-ide yang muncul di benak dan berteriak meminta dituliskan
sering harus puas dengan sekedar mencapai batas " draft "  tulisan
padahal, menulis sering saya padankan dengan terapi gratis
dengan menulis, saya merasa emosi saya di'stabil'kan
dengan menulis, saya merasa, saya bisa tetap waras.

tidak banyak hal baru atau perubahan yang terjadi dalam hidup saya di akhir-akhir ini
namun semakin hari, semakin saya bersyukur, untuk semua yang boleh terjadi dalam hidup saya
untuk kedua orangtua saya , yang selalu mensupport saya secara fisik dan psikis
untuk teman dekat saya , yang masih setia bertahan dengan kegilaan-kegilaan saya , dan menyayangi saya apa adanya
untuk pekerjaan saya , yang melatih saya untuk terus berkembang , mendidik saya untuk menjadi satu pribadi dengan berbagai macam sikap : tegas , disiplin , lembut , ramah , tidak basa basi , pengertian , sabar  , harus bisa dipercaya , dan semua itu sekaligus.
saya bukan malaikat, apalagi dewa
tentu saja , saya tidak selalu berhasil , justru sebaliknya
namun saya belajar... itu tidak mudah, tapi saya menikmati proses belajar ini
rasa bosan di hari sabtu dan minggu , dan rasa rindu kepada para pasien , menyadarkan saya, bahwa saya beruntung ! karena saya mempunyai pekerjaan, yang saya cintai.

jadi...
seperti yang pernah saya katakan kepada seorang teman
mungkin tidak perlu mengkhawatirkan kewarasan diri sendiri
mungkin dunia ini juga tidak selalu waras
mungkin .. ?
tapi yang pasti
saya akan tetap bertahan
( doakan saya )
 






Sonntag, 6. Januar 2013

happy two in one

tangkup tangan dan bisik doa kali ini terucap
diperuntukkan mu.
Mu yang sedang berenang tawa
mu yang sedang memandang nirwana
mu yang tidak lagi satu dalam presensi .
Berbahagialah selalu !
itu yang pasti kupintakan untuk mu
agar terang langit selalu mengiringi setiap pergimu
dan bintang bertabur tetap menjadi pelita
saat malam menjelang mu.
kan kupohonkan juga untukmu
pintu cadangan yang selalu dibukakan
saat kamu mengetuk pintu-pintu lain terkunci.
Bahagia lah
Bahagia lah
Jadilah tetap dirimu sendiri, hanya bertambahlah bahagia.
Amien.

ps: jawaban ku tidak pernah tidak. aku hanya tidak mengira, kamu tidak pernah menyadari nya. tidak akan pernah, dan lebih baik begitu :)

Samstag, 20. Oktober 2012

Jangan labeli saya, dengan label yang tidak tepat !

Pagi tadi seorang teman menceritakan kehidupan di tempat kerjanya yang baru. Belum lama ini dia kembali ditugaskan di suatu daerah, di luar pulau Jawa. Pesan-pesan singkat yang dia tulis, tersaji dalam hitungan sepersekian detik di layar mobile phone saya. Padahal jarak fisik saya dan dia berbeda ratus ribu kilometer. Dia bercerita, bahwa di daerah, di situ saat ini dia bekerja, dia seringkali dianggap bukan warga pribumi, tapi keturunan chinese. Dan anggapan itu, seringkali menempatkannya di posisi yang kurang menguntungkan. Misalnya saja, saat dia berkunjung ke suatu warung, hanya dengan tujuan tidak lain tidak bukan, membasahi kerongkong dan mengisi perut nya. Pemilik warung itu tiba-tiba menyatakan warung nya tutup, padahal jelas sekali dagangannya masih ada dan belum waktunya tutup. Seorang teman saya ini adalah asli orang Jawa. Sayangnya, penampilan nya memang kurang mendukung untuk dianggap sebagai orang Jawa di mata orang lain. Dibandingkan dengan orang Jawa pada umumnya, kulitnya lebih terang. Matanya juga tidak selebar orang Jawa kebanyakan. Teman saya lalu juga berkata, tidak jarang tatapan aneh harus dia terima dari warga asli daerah itu. Setelah tatapan yang tidak bersahabat itu dia terima, tentu saja ada bisikan-bisikan yang harus dia dengar. Apalagi kalau bukan kata " cina " ...

Saya terus terang tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. Bukan karena saya tidak peduli dengan nasib teman saya. Justru karena saya tahu persis apa yang dia rasakan.  Saya tahu bagaimana rasanya ditatap aneh lebih dari sepasang dua pasang mata. Saya tahu bagaimana rasanya mendengar bisikan bisikan julukan cina cino chinese. Umur saya sekarang dua puluh enam tahun. Dan dalam dua puluh enam tahun ini, saya tidak menjadi biasa dengan tatapan aneh itu. Julukan julukan itu tidak menjadi nyaman di telinga saya. Intinya, ya.. secuil dari saya tetap masih saja terluka, bila ditatap aneh seperti alien, atau bila dipanggil cina cino chinese.

Tanpa saya bisa memilih. Tanpa ada satu tangan pun saya acungkan untuk bisa mengatur. Tanpa sejentik kuasa .. saya terlahir di Jogjakarta. Salah satu profinsi yang ada di Indonesia. Sejak detik saya lahir, bahasa yang saya dengar di telinga saya adalah bahasa jawa campur indonesia. Lagu-lagu yang saya pertama pelajari adalah satu-satu aku sayang ibu, tentu saja dalam bahasa indonesia. Kemudian sekolah saya mulai dari TK - SMA juga di Indonesia. Saya berbicara dengan bahasa jawa campur indonesia dengan teman-teman saya. Makanan saya bumbu Indonesia. Angin dan air yang saya konsumsi juga tak beda dengan warga Indonesia lainnya. Apa yang membuat saya seenaknya dilabeli cina ?? Kenapa saya harus jadi cina, kalau ke cina pun saya belum pernah, dan bahkan tidak ingin ! Kenapa saya dianggap cina kalau bicara bahasa cina pun saya tidak bisa. Kalaupun leluhur saya berasal dari cina, apakah itu kemauan saya ? Apa dari awalnya saya disodori formulir dengan jawaban yang bisa saya pilih sendiri untuk menyatakan keinginan saya berasal dari bangsa mana ?

Saat ini saya sedang menjalani kuliah di negara Jerman. Orang-orang Jerman tentu saja kesulitan untuk mengetahui dari wajah saja, dari manakah asal saya. Tidak jarang mereka menyapa saya dengan bahasa cina. Saya selalu menjawab nya dengan bahasa jerman. Saya bukan orang cina, saya tidak mengerti bahasa cina, saya orang Indonesia ! Dan jawaban itu, keluar dari hati saya. Karena saya memang lebih bangga sebagai orang Indonesia. Karena saya memang lebih berbesar hati, menjadi seorang Indonesia.

Saya tidak tahu sampai kapan hal ini masih akan tetap berlanjut. Pengelompok-pengelompokan terhadap ras suku agama di Indonesia. Mungkin juga tidak akan pernah berhenti, akan selalu seperti ini. Saya tidak meminta keajaiban. Saya hanya memimpikan pengertian. Tolong mengertilah, bahwa saya terlahir dengan warna kulit, lebar mata, dan jenis rambut yang seperti ini, bukan pilihan saya. Tapi saya memilih untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Saya memilih untuk mencintai negara Indonesia. Tolong mengertilah apa yang bisa dan tidak bisa saya pilih atau tentukan. Tolong hentikan tatapan-tatapan aneh itu, karena saya bukan alien atau musuh. Tolong hentikan pikiran-pikiran yang seketika merayap di benak sambil menjuluki saya cina cino chinese, karena saya juga Indonesia, hanya saja dengan penampilan yang berbeda, dan saya tidak punya kuasa atas hal itu.

jikalau satu dari kalian, mau melabeli saya dengan suku, tidak ada suku lain yang saya kenal dan agungkan, selain seorang Jawa.

PS : tulisan ini hanya melarungkan sebuah mimpi . yang entah akan kemana . bukan bermaksud untuk menyinggung atau menjelekkan pihak mana pun. sama sekali tidak ada tujuan ke sana.


Sonntag, 8. Mai 2011

R , is what you act .

hari ini secara kebetulan, saya bertemu dengan seorang kenalan lama. waktu itu, dia dan saya sering sekali bertemu dan berdiskusi. waktu itu, dia dan saya sering sekali bernyanyi, bergandengtangan dan melonjak-lonjak bersama. waktu itu. waktu saya masih pergi ke tempat itu.

dan hari ini, saat saya dan dia diijinkan berpapasan di tengah jalan, dia bahkan tidak membalas uluran tangan saya, saat saya berusaha menjabat nya. dia hanya bertanya datar. pertanyaan yang sudah saya ramalkan akan keluar dari mulutnya. kenapa saya tidak datang lagi ke tempat itu ? saya tersenyum. simpul. lalu kembali melontarkan tanya " apa kamu akan mau menjabat tangan saya lagi, kalau saya kembali ? " dia tidak menjawab. saya menginginkan suatu reaksi dari wajahnya. tapi nihil. saya tidak mendapatkan apapun. saya tidak tahu apa sekarang dia membenci saya, jijik terhadap saya, kaget bertemu dengan saya lagi, atau memang tidak lagi ambil pusing apapun mengenai saya.

sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang hal ini di blog. tapi rasa ewuh selalu menahan keinginan saya itu. namun ijinkanlah saat ini saya menuliskannya. bukan untuk dibaca siapa. bukan untuk membuat apa. hanya untuk saya sendiri.

tempat yang dari tadi hanya saya sebut dengan kata ganti 'itu' , adalah suatu tempat ibadah. tentu saja tempat ibadah sesuai dengan agama yang saya peluk. tempat yang dulu setiap minggu minimal satu kali saya kunjungi. untuk berdoa. untuk memohon. untuk bersyukur. untuk berkeluhkesah. untuk memuji. dan.. untuk bersosialisasi horizontal kepada sesama saya yang juga berkunjung. pada awalnya, saya sudah merasakan, ada hal-hal yang membuat saya kurang nyaman di situ. namun saya berusaha menekannya untuk keluar dari ego saya. saya berusaha menetralkannya dengan pikiran bahwa hal itu karena saya masih baru di tempat itu. saya pikir, lama-kelamaan, saya akan makin bisa beradaptasi. minggu pertama, minggu kedua.. hingga tahun kedua, saya tetap berjemaat di situ. sampai suatu saat, saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri ' kamu harus keluar - lepas dari semuanya ini ! ' .

apa yang sebenarnya terjadi ? pergejolakan apa yang saya dapati ? saya mendapatkan teman-teman yang super care dan super fun ! tidak ada yang salah dengan hal itu. namun beberapa prinsip. beberapa pola pikir. dan beberapa kepercayaan yang ada dalam kepala mereka, tidak bisa saya 'iya' kan.

saya memang memeluk satu agama. bukan dua. bukan tiga. dan saya hanya pergi ke satu tempat ibadah. bukan beranekawarna. tapi bukan dengan begitu saya menganggap agama yang lain tidak ada. bukan dengan begitu saya menganggap tuhan saya paling benar dan paling nyata. bukan dengan begitu saya menganggap hanya agama saya yang bisa menyelamatkan umatnya, sementara umat lain akan tak terselamatkan.

saat saya berdoa. yang saya butuhkan bukan medium atau pemirsa. saya butuh hati saya, saya butuh konsentrasi saya untuk bisa berdoa dengan jujur dan tulus. menurut saya, mendoakan orang dengan keras-keras dan diperdengarkan di hadapan orang banyak, adalah seperti mencari pujian untuk diri sendiri.

hari ini, saat ini.. beberapa tahun setelah saya berhenti mengunjungi tempat itu. mereka berpikir bahwa dengan meninggalkan mereka, saya menjadi mahluk tak ber tuhan. namun benarkah begitu ?
saya meninggalkan tempat itu, bukan karena saya berhenti percaya kepada Nya. saya berhenti mengunjungi tempat itu, dan berhenti mengikuti upacara-upacara nya, karena saya percaya Dia ada. dan yang saya maksud dengan Dia ada, adalah bahwa Dia benar-benar ada. di sini, sekarang, di mana-mana, dan kapan saja. saya tidak perlu berteriak keras-keras memanggilNya. karena Dia mendengar semua bisikan hati saya, bahkan sebelum saya sendiri mendengarnya. saya tidak perlu menjelek-jelek kan kepercayaan lain, untuk menambah iman saya. karena memang itu tidak perlu. iman saya nyata. dan keberadaanNya adalah nyata dalam kehidupan saya sehari-hari. di setiap hembus nafas, hangat matahari, dan kilau bintang yang boleh saya dapatkan setiap hari nya. apalagi yang perlu dibela ?

apakah saya menyesal , meninggalkan tempat itu ? yang saya sesali adalah karena saya harus rela kehilangan teman-teman yang super care dan super fun (but then.. i knew which one is my true friend since that) . yang saya sesali adalah bahwa saya tidak lagi bisa melihat anak-anak bayi yang dulu sering saya temui di situ ( and yes, i miss them.. ) . but seriously.. , yang saya tinggalkan adalah gedungnya. yang saya tinggalkan adalah tatacara nya. saya tidak akan meninggalkan Nya. saya tidak akan mungkin bisa.

so, here I am Padre. still belongs to you. and will always be like that.

Religion is what you act, not what you believe. *unknown

( this post is related to this )


Donnerstag, 18. November 2010

sometimes you get the lesson from where you less expect it

" Bagaimana, kamu menginginkan kematian mu ? "

Saya percaya, saya bukan satu-satunya di ruangan itu yang terkejut, saat pertanyaan itu dilontarkan. Sejenak hanya hening yang menguasai. Tidak ada bisikan atau percikan tawa yang biasanya terdengar di tengah ruang kuliah. Saya masih berusaha mengolah pertanyaan itu di otak sekali lagi, berusaha meyakinkan diri sendiri, apa yang saya pahami, sesuai dengan apa yang memang ingin dipertanyakan. Bagaimana , saya menginginkan kematian saya ? --
" Schnell und schmerzlos " , dua kata itu yang kemudian saya dengar dari dalam diri saya sendiri, sebagai jawaban. " Singkat dan tanpa rasa sakit " Itu adalah jawaban saya . Mungkin itu terkesan seperti suatu spontanitas, mengingat tidak sampai dua menit saya berpikir, dan muncullah pemikiran itu.. namun kalau saat ini, saya diberikan waktu lagi untuk berpikir secara jenak dan tidak usah tergesa-gesa, saya rasa jawaban saya masih akan tetap sama.
Saya ingin , saat kematian menjemput saya, saya tidak harus merasakan sakit, dan saya ingin, hal itu berjalan singkat.

Beberapa hari setelah nya, saya diberi kesempatan untuk berkenalan dengan seorang pasien. Seorang istri yang penuh hormat kepada suami nya, dan juga seorang Ibu untuk dua anak yang diadopsinya dari panti asuhan namun dirawatnya seperti anak-anak yang ia besarkan di rahim nya sendiri. Seorang pasien yang saat saya temui sedang merajut topi untuk bayi tetangga nya yang akan lahir kira-kira nanti seminggu sebelum natal. Dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Mengijinkan saya memeriksanya. Menjawab semua pertanyaan saya dengan lengkap dan jelas. Saya tidak mendengar sedikit pun rasa takut atau gentar dari suaranya. Saya tidak menangkap secuil pun rasa ragu atau takut maju dari binar matanya. Dari bibirnya, tidak pernah lewat satu kalimat pun tanpa senyum.
Ibu itu.. , harus merelakan satu indung telur nya diambil saat dia masih berusia 16 tahun. Satu tahun setelahnya, dia harus kembali merelakan indung telur sebelahnya. Saat usianya menginjak 30 tahun, saat di mana dia dan laki-laki yang dicintainya sudah hidup sebagai suami istri, dia harus merelakan rahim nya diangkat. Sejak hari itu dia belajar menerima kenyataan bahwa dalam hidupnya kali ini, dia tidak akan bisa melahirkan bayi-bayi dari rahim nya sendiri. Tapi itu bukan berarti dia tidak bisa melahirkan cinta untuk bayi-bayi yang dilahirkan dari rahim wanita lain. Perjuangannya tidak berhenti di situ. Tumor yang ada di perut nya seperti tidak ingin dimatikan. Beberapa tahun kemudian, usus besar nya harus dikeluarkan. Dan saat ini, sisa usus yang ada di perut nya hanya 60cm. Sementara sel kanker nya masih tetap terus menyebar, dan saat ini mulai menyerang ginjal nya, ada penyakit lain yang ditemukan yang menyerang pembuluh darah nya. Satu penyakit yang tidak sering ditemukan, dan jarang ditemukan pada wanita. Satu penyakit yang tentu saja semakin memperburuk keadaannya. Namun Ibu itu menceritakan semuanya kepada saya dengan tersenyum. Saya tidak tahu, kekuatan dan ketabahan dari mana yang dia punya. Saya tidak mengerti, daya dari mana yang merasuk di diri nya. Saya kagum, juga merasa malu. Parameter vital saya boleh jauh lebih stabil dari ibu itu. Daya tahan tubuh saya boleh lebih kuat dari ibu itu. Namun semangat hidup nya, namun ketabahannya menghadapi masalah, namun daya juangnya... jauh lebih besar dari yang saya punya. Saat waktunya saya harus pergi dan berpamitan dengan ibu itu, dia mengajukan pertanyaan kepada saya. Dengan suaranya yang ramah dia bertanya " menurut buku-buku dan ilmu yang kamu pelajari, berapa lama waktu yang masih saya punyai ? " Sejenak saya hanya bisa menatapnya. Menatap sosok wanita tegar dengan badan yang kecil dan terbalut jaket merah muda nya yang panjang.. Saya tidak mampu menjawabnya. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya.. tapi lebih karena saya tidak mau menjawabnya ! Lalu saya kembali mendekat padanya, meletakkan semua berkas dan alat-alat tulis saya di atas ranjangnya, dan saya memeluknya. Erat... erat sekali sampai saya sanggup merasakan denyut nadi nya. Lalu dia berkata pelan " masa bodoh dengan apa yang dikatakan buku-buku mu. saya akan tetap hidup sampai kapan saya diberi hidup. tidak akan ada yang tahu. tidak kamu. tidak dokter-dokter spesialis itu. tidak saya sendiri. cuma Dia yang tahu. "

tentang mati ... kadang orang merasa hal itu terlalu tabu dibicarakan. seperti suatu akhir dari segalanya, dan suatu momok yang sangat mengerikan. tapi benarkah begitu ?
tidak kah seharusnya kita lebih takut pada hidup, karena dari situ lah semuanya ditentukan?
kalau saya menjalani hidup ini sebaik mungkin.. kalau saya menghargai hidup ini sama seperti saya menghargai dan menghormati Pemberi nya.. saya rasa saya tidak akan perlu takut menghadapinya suatu saat nanti .. menghadapi kematian...

As long as You guide me, I shall be OK.

Freitag, 25. Juni 2010

hari ini, beda

Selamat pagi, Cahaya !

terimakasih untuk bersinar, terimakasih untuk membuatku kembali terjaga.
Aku menantikan hari ini, lebih dari apapun. Aku sudah merencanakan semuanya untuk hari ini. Segala sesuatunya. Kalau kamu membuka agenda ku, dan membaca apa saja yang kucatat untuk hari ini, kamu akan mengerti, seberapa matang nya rencana ku. Kamu akan mengerti, bahwa tak akan ada satu hal pun kelewatan atau meleset dari yang direncanakan hari ini. Kali ini tak akan kubiarkan, hari berlalu dengan sia-sia, seperti hari-hari ku yang lalu. Hari ini beda, aku tahu.. hari ini semua akan sempurna, seperti apa yang kutuju. Aku tahu itu..

. . .

Sarapan. Aku tidak tahu lagi, kapan terakhir kali aku menikmati sarapanku. Beberapa tahun terakhir ini sarapan bagiku hanyalah suatu rutinitas yang mengganggu. Seandainya perut ku tidak harus dimasuki sarapan, mungkin aku akan lebih punya banyak waktu luang.. mungkin untuk tidur.. mungkin untuk bermimpi.. mungkin untuk membayangkan cinta ku. Namun ! Sarapan kali ini, sarapan hari ini.. aku menikmati setiap gigit dan telannya. Aku memilih kue untuk sarapan pagi ini. Tidak wajar memang. Tapi memang itulah yang sudah ku rencanakan, yang sudah kutulis di agenda ku untuk hari ini. Satu potong kue coklat dengan creme yang sangat manis dan berkalori tinggi, satu lembar roti Vollkorn yang kuolesi mentega tebal-tebal dan sehelai Schinken diatasnya, dan satu cangkir besar teh Roiboos beraroma madu. Itu adalah menu sarapanku hari ini, sesuai seperti yang sudah kurencanakan. Tidak akan kubiarkan satu detail pun terlewat, dari apa yang sudah tertulis di agenda ku. Tidak ! Hari ini harus beda. Hari ini harus sempurna. Aku tahu..

. . .

Saat ini aku sedang menunggu cucian ku selesai dicuci otomatis oleh mesincuci. Aku membuka-buka lagi album foto yang sudah lama tak kusentuh. Warna merah nya sudah berubah pudar dan kusam. Foto-foto yang ada di dalamnya juga sudah mulai pudar dan kehilangan warna. Putra-Putra ku.. jika kalian berdua membaca ini, suatu saat nanti, pastikan kalian membuka juga album foto itu. Di situ kalian masih balita. " Robby..,pelita hatiku. kamu adalah jelmaanku dalam bentuk laki-laki. Bibir mu tipis, seperti bibir ku. Rambutmu lurus pirang, seperti rambutku " " Gerry, bayi mungil ku.. lihatlah di foto itu, betapa manis nya kamu, putra ku. Kamu masih bayi di foto itu, namun lihatlah, tatapan mu tajam, seperti tatapan Papa mu. Rambutmu coklat dan berombak, sama seperti Papa mu. "
Putra-putra ku.. kalau kalian membaca ini, suatu saat nanti.. kenanglah akan masa-masa indah itu saja. Jangan pada kesalahan ku tak mampu menjadi Ibu yang baik. Jangan benci aku, putra-putra ku..aku memohon jangan kubur aku terus menerus dalam kebencian kalian.
. . .
Kegiatanku melihat-lihat foto dan bernostalgia sempat terhenti sebentar. Ariadne,tetangga baru ku, seorang mahasiswi kedokteran yang datang dari Indonesia, mengetuk daun pintu dan menengokkan kepalanya ke dalam kamarku. Dia menanyakan keadaanku hari ini, menanyakan apakah aku membutuhkan sesuatu. Aku menjawab " Semuanya baik-baik saja. Terimakasih. Semakin hari, akan semakin lebih baik ". Aku menjawabnya dengan senyum yang kulebarkan. Menyuarakan jawaban itu selantang mungkin. Biar dia tak mendengar kebohongan di suaraku. Biar dia tak curiga aku sedang merencanakan sesuatu, untuk hari yang istimewa ini.

. . .

Setelah kukenakan kaos polo hijau pastel bergaris-garis putih, dan celana kain warna hijau tua, aku memoleskan bedak dan sedikit perona pipi warna oranye. Aku merasa tidak yakin saat memoleskannya. Sudah terlalu lama, sejak terakhir kali aku berdandan. Kepercayaandiri untuk mempercantik diri itu sudah lama hilang. Namun aku ingin tampil cantik hari ini. Aku ingin menunjukkan sisiku yang lain. Bukan wajah yang keruh dah jiwa yang rapuh. Selesai ku bersiap, mulai kulangkahkan kaki keluar dari rumah menuju ke halte Bus. Aku ingin berjalan-jalan di pusat kota. Aku ingin tahu, barang-barang seperti apakah yang sekarang banyak dan laku dijual, warna apakah yang sangat digemari pada musim ini. Aku ingin tahu banyak hal.. apa yang manusia -- sesama ku lakukan, untuk membuat mereka bertahan di kehidupan yang serba munafik dan tak jujur ini. Aku sungguh .. ingin tahu ..

. . .

Selamat petang, Bulan !

Kamu tidak penuh malam ini. Kamu hanya seperti mengintip diam-diam. Dan temarammu, jatuh tepat ke seperempat meja tulis ku, di mana saat ini aku menuliskan semuanya ke dalam buku agenda ku. Tidak apa-apa, Bulan. Aku tak perlu penuh mu. Aku tak perlu sempurna mu. Karena tidak ada satu pun yang sempurna. Sama seperti ku, tidak sempurna.
Bulan, dengan munculnya kamu, dan dengan berhembus nya nocturno yang kamu bawa, lalu embun yang tanpa suara namun menetes, membias di luar kaca jendela ku, ini lah saatnya...
Hari ini sudah hampir berlalu. Siang yang sudah terlewati.. semua rencana ku yang sudah terpenuhi..
Ini lah saat istimewa itu. Ini lah saat, semua rasa sakit ini akan berakhir. Tidak ada lagi sakit, tidak ada khawatir, tidak ada ketakutan, tidak ada gelisah, tidak ada rindu, tidak ada kecewa..
Dan aku, aku akan bersatu kembali dengan satu cinta yang pernah nyata dalam hidupku.
Suami ku ,.. setelah puluhan pil-pil dan satu botol snaps ini masuk ke lambung ku.. aku akan mendekat pada mu.
Setelah puluhan pil-pil dan satu botol snaps ini masuk ke lambung ku.. Selamat tinggal hidup.. Selamat tinggal semua..

maafkan aku, putra-putra ku ...
aku mencintai kalian.
maafkan aku, ..
aku tidak lagi menginginkan hidup ini..


22. 6. 2010 , H. P.

untuk seorang tetangga, yang memutuskan untuk mengambil hidupnya sendiri.
untuk seorang tetangga, yang hidupnya pernah sarat dengan cinta.
dan saat cinta itu tiba-tiba harus diambil darinya, dia tidak pernah bisa mengikhlaskannya.
saya menyesalkan rasa kehilangan yang harus kamu tanggung, saya ikut berduka untuk semua kekosongan yang harus kamu rasakan. dan saya berharap, saya sungguh berharap.. bahwa kamu sekarang bisa mendapatkan yang terbaik. bahwa kamu sekarang tidak lagi perlu merasakan kepedihan yang lama mendera mu.
tapi maaf, saya tidak akan pernah menyetujui keputusan mu.
may you rest in peace, Frau P.

Mittwoch, 3. März 2010

dua puluh empat

terimakasih
dua puluh empat ,
untuk darah dan air
yang berperan lebih dari sekedar substantia
namun oase
dari situ cinta bermuara.

terimakasih
dua puluh empat ,
untuk sayap besar
sayap kecil
yang selalu mengiringi
dalam semua jarak - laju - margin - titik - ruang
yang setia mengada
meski tak pernah dianggap ada.

terimakasih
dua puluh empat ,
untuk denyut - degup bersautan
cerebellum - peripher berlanjutan
akal - rasa bersamaan.

terimakasih
untuk Sumber dari segala sumber
Daya dari segala daya
Pusat dari segala pusat
karena dua puluh empat tidak tinggal diam
dua puluh empat tidak berhenti,
maka biarkan saya
tetap berpercaya di dalam Mu
biarkan saya
tetap berlindung di dalam Mu
sambil menunggu
angka angka lain yang masih boleh datang.

Donnerstag, 12. November 2009

belajar melepaskan

Seandainya dua tahun lalu, tidak pernah saya terima E-mail itu, maka hari ini akan bertambah usia mu satu tahun lagi. Seandainya, kabar itu memang tidak pernah ada, mungkin hari ini sudah dua gelar sarjana kamu sandang, mungkin kamu sudah bekerja di perusahaan impian mu, dan cuti pertamanya sudah kamu ambil, untuk mengunjungi ku di sini, lalu bersama-sama kita keliling Eropa, seperti yang pernah kita impikan.

Adalah kenyataan yang seperti selalu sembunyi di tempat lain, sedangkan manusia hanya berkutat pada perandaian yang diciptakan imaji nya saja. Seperti saya, yang meskipun sudah hampir genap dua tahun, masih susah menerima kenyataan -- kepergianmu. Meskipun mata ini tidak lagi berair. Meskipun saya tidak lagi bangun di malam hari karena bermimpi tentang mu. Meskipun saya tidak lagi gila,setiap saat mengecek apakah messenger mu online atau tidak. Meskipun saya berusaha mencoba mengerti, sungguh mengerahkan semua tenaga untuk mencoba memahami, tapi kenyataannya saya tidak pernah bisa benar-benar mengerti. Kenyataannya adalah yang saya bisa hanya merelakan dan menerima kepergianmu.

Dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, saya tidak tahu, di mana , bagaimana, dan siapakah kamu sekarang. Saya tidak tahu, apa kamu mendengar saat nama mu saya sebutkan di doa sebelum tidur saya. Saya tidak tahu, apa doa-doa itu dan semua kenangan punya kita yang masih saya simpan rapi, cukup membuatmu merasa lebih tenang, merasa lebih bahagia. Bahagia kah kamu di sana ? Tidak ada kah sedikitpun rindu menyeruak di dada mu ?

Apakah kamu, di suatu tempat nun jauh di sana, masih sempat mengamati kami di sini ?
Tahu kah kamu apa-apa saja yang terjadi sejak kamu berhenti mengada di tengah-tengah kami?
Teman-teman kuliah mu menanam sebuah pohon di kampus kalian, dan menamai pohon itu Christy.. diambil dari nama tengah mu. Saya mau kamu tahu, mereka kehilangan kamu ! Kehidupan beberapa dari mereka sempat terhenti sejenak, seakan ingin berontak pada realita di mana kamu tiba-tiba meraib. Mereka merindukan senyumanmu, tim kerja mu di laboratorium masih membutuhkan kerjasama dan suara mu yang riang.
Orangtua mu sempat mengasingkan diri. Mereka pergi jauh sekali dari rumah dulu kamu tinggal dan tumbuh besar. Mereka pergi untuk mengobati diri mereka sendiri. Mengobati diri dari luka yang tidak tampak dan tidak bisa disembuhkan dengan obat atau operasi. Mereka menghindari sudut, aroma, bebunyian atau apapun yang menoreh ingatan tentang mu. Itu dulu.. Namun tenanglah, kamu bisa berbangga akan mereka. Sekarang mereka sudah jauh lebih legawa. Mereka, mungkin seperti halnya saya, mencoba untuk menerima kenyataan.. tanpa bisa memahami nya.
Saya ? Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya melewati beberapa tahap dengan perasaan yang berbeda-beda. Awalnya saya marah, sangat-sangat marah. Saya menganggap mu picik dan berpikir sempit. Setahu saya, kamu adalah orang yang berpikiran optimis dan selalu memberi motivasi kepada saya. Keputusan terakhir mu itu adalah hal yang membuat saya merasa dikhianati. Keputusan mu untuk berbuat seolah kamu adalah Shinigami atau sesuatu lain yang bahkan lebih berkuasa. Keputusan mu untuk memutuskan rantai hidup mu sendiri dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya tidak akan pernah mengerti, apakah gengsi atau keputus-asa-an akan cinta, yang lebih membunuhmu saat itu. Kemarahaan saya mereda dengan muncul nya rasa bersalah dalam diri saya. Saya menyalahkan diri saya sendiri, karena menjadi seorang teman yang tidak becus. Saya bertanya-tanya, seandainya saja saya lebih sering menghubungi mu, apakah kamu akan menceritakan semua masalah mu ? Seandainya saat itu kamu bisa berbagi dengan saya, apakah itu akan meringankan beban mu ? Seandainya saya lebih perhatian, apa kamu masih akan mengada sampai sekarang ? Kemunculan rasa bersalah itu tidak sendirian. Saya juga menyalahkan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan dalam doa saya kutuk habis-habisan. Saya meninginkan dia tidak akan pernah lagi mendapatkan cinta. Dia sudah membuang kamu, dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya menginginkan dia tidak akan pernah akan bisa merasakan bagaimana dicintai oleh seorang anak. Marah - kecewa - kehilangan - rasa bersalah . Perasaan itu yang selalu mondar-mandir di dalam diri saya. Sampai akhirnya waktu mempertemukan saya dan papa kamu. Dia menunjukkan foto mu. Kamu tetap cantik seperti saat kamu masih hangat dan bernapas. Melihat mu di foto itu seperti membangunkan saya dari mimpi. Sumber dari segala marah, kecewa, kehilangan, dan rasa bersalah itu bukanlah kamu, namun diri saya sendiri. Saya yang terlalu egois dan tidak mau percaya bahwa kamu tidak ada lagi bersama saya di sini. Parasmu yang hanya tampak tertidur namun tenang, tidak menunjukkan duka, tidak menunjukkan sakit, membuat saya sadar bahwa airmata saya yang akan menghambat bahagiamu. Dari saat itu saya belajar merelakan, menerima.. meskipun tidak akan pernah saya mengerti atau saya setujui cara pikir mu menarik keputusan terakhir itu. Keputusan terakhir mu, yang membuat jarak kita bukan hanya terpisah benua, namun antara hidup dan mati.

* untuk seorang teman, seorang saudara, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di bulan Desember 2 tahun lalu. " hey Sist, I still miss you.. I hope my prayers can reach you. till we meet again, Sist ! "

** untuk semua yang membaca ini.. Suicide is not the solution of your problem !!

Samstag, 26. September 2009

boleh pergi


kalau ternyata selama ini, memang tujuan mu menjadikan saya teman, hanyalah agar kamu bisa kapan saja meminjam uang saya, (maafkan.. ) saya mengutuk perbuatan mu itu.
mungkin ada yang sedikit meleset dari perhitungan mu, orangtua saya memang cuma punya anak satu, saya. tapi bukan berarti saya bisa memiliki segala sesuatu nya secara berlebih. mungkin ada sesuatu yang lepas dari penglihatanmu,kenyataan bahwa saya juga harus mengurangi waktu tidur saya, membatasi waktu jalan-jalan saya, bahkan kadang mengurangi jatah belajar, untuk melakukan part time job.

jadi kalau kali ini, saya tidak bisa memenuhi apa yang kamu minta, karena saya sendiri sedang membutuhkan uang itu, dan kamu harus jadi senewen dan tidak mau berbicara kepada saya.. silakan diamkan saya, selama apapun kamu mau. saya lebih memilih lagi-lagi kehilangan satu teman, dibanding mempertahankan pertemanan yang palsu dan berorientasikan materi. kamu boleh marah, boleh benci, boleh mengatai saya, boleh tidak mau lagi berteman dengan saya. saya tidak peduli.
saya tidak mau punya teman palsu.

terimakasih untuk semuanya. terutama untuk semua tawa yang sudah kamu hadirkan dalam hidup saya. mungkin sudah saatnya kita mengambil jalan yang berbeda. sayonara.

Samstag, 19. September 2009

cause broken heart won't kill, if you don't let it happen

Seorang kenalan baru pernah bertanya kepada saya, apakah saya sedang dalam keadaan 'broken heart' yang sangat parah, setelah dia membaca salah satu postingan di blog saya ini. Saya tidak mampu menjawab pertanyaannya. Bukan karena saya tidak mau, bukan karena saya tidak ingin dia ikut campur perasaan saya, namun karena saya sendiri tidak tahu pasti.

Dalam keadaan seperti apakah, seorang manusia digolongkan sebagai seseorang yang sedang mengalami patah hati ? Dan skala apakah yang mampu mengkondisikan seberapa parah patah hati itu ?

Kehilangan yang sangat besar dan begitu menghantam diri saya, sudah pernah saya alami dua kali. Pertama, adalah saat saya kehilangan Oma. Oma adalah seseorang yang merawat saya dari bayi hingga saya hampir dua tahun. Oma bagi saya adalah seseorang yang selalu lembut, selalu mempunyai dongeng sebelum tidur, selalu wangi, selalu tertawa, selalu ramah, selalu memasak makanan enak, selalu cantik, dan yang paling indah adalah kenyataan bahwa dia selalu mengistimewakan saya. Oma saya harus pergi untuk selamanya saat saya kelas 3 SMA. Tidak berapa lama setelah saya menulis ujian akhir SMA. Saya rasa, saat itulah saya merasakan patah hati yang begitu mendalam. Saya tetap hidup seperti orang hidup. Bernafas, makan, tidur, berjalan, namun segala sesuatunya seperti tanpa esensi. Saya tidak bisa mempercayai seseorang yang sangat saya cintai itu tiba-tiba harus tertidur tanpa pernah bangun kembali. Tidak akan ada balasan saat saya menyapa, tidak akan ada lagi belaian di kepala saya saat saya mencium pipinya, matanya tidak akan terbuka lagi untuk melihat saya, dan suaranya tidak akan pernah saya dengar lagi. Saya terpuruk, saya merasa ditinggalkan, saya merasa kecil dan tidak berguna.

Kali kedua adalah saat seorang yang juga sangat saya cinta, seorang laki-laki muda yang saat itu bisa disebut teman spesial saya, tiba-tiba berhenti berbicara kepada saya. Sepertinya saya tidak pernah ada dalam hidupnya. Dia benar-benar komplit tidak mengacuhkan keberadaan saya lagi. Beberapa lama setelah aksi diam nya, tanpa menjelaskan satu pip pun kepada saya, saya mendengar bahwa dia mempunyai teman spesial baru. Dia punya cinta yang baru untuk seseorang yang baru. Saat itu saya benar-benar berpikir saya habis. Saya pikir saya akan pelan-pelan hilang tertelan perasaan saya sendiri yang serba terlalu. Terlalu sedih, terlalu kecewa, terlalu cemburu, terlalu marah, terlalu menyalahkan diri sendiri, terlalu nekad !

Kenyataannya adalah, saya masih ada sampai detik ini. Dua kali patah hati yang begitu dalam dan saya pikir akan memangsa jiwa saya sendiri lambat laun, tidaklah menjadi benar. Waktu membawa saya menjadi pulih dan kuat kembali. Bahkan mungkin jadi lebih kuat dari sebelumnya. Pikiran bahwa saya tidak akan mampu melewati semuanya itu, juga bukanlah suatu yang menjadi nyata. Awalnya memang berat, awalnya memang semua menjadi lebih gelap dan lebih dingin. Namun suatu pagi saya menemukan mata saya tidak lagi basah dan bengkak. Suatu hari saya menyadari bahwa saya mampu membicarakan kepergian Oma saya, atau keputusan mantan teman spesial saya itu, tanpa ada rasa sakit di dada. Bahkan sekarang ini, kalau saya sedang menuliskan semuanya, saya hanya merasa sedikit getir, namun saya tidak lagi bersedih hati, saya tidak harus lagi meneteskan airmata. Saya bangga dan bahagia untuk segala liku yang boleh saya lewati, lebih lagi kalau saya berhasil melewatinya dengan baik dan mampu meneruskan perjalanan saya.

Apakah saat ini saya kembali mengalami patah hati itu ? Apakah patah hatinya parah, bahkan lebih parah dari dua sebelumnya ? Saya tidak tahu ..
Saya tahu saya akan mengalami 'kehilangan' sekali lagi. Dan kali ini, beda seperti dua sebelumnya. Saya yang akan menghilang. Saya yang akan menutup semua celah, agar saya dan dia tidak mungkin lagi saling bertemu. Bukan karena saya tidak meninginkannya lagi. Justru sebaliknya, semakin hari saya semakin kecanduan akan dirinya. Bukan karena dia melakukan suatu kesalahan dan saya tidak bisa memaafkannya, justru sebaliknya keputusan saya lah yang mungkin tidak termaafkan. Bukan karena rasa saya untuknya berubah, justru karena saya tidak berubah sama sekali, tidak jiwa, tidak raga, untuk itu lah saya harus pergi. Untuk apa semuanya ini saya lanjutkan, kalau saya 100% pasti, bahwa tidak ada masa depan untuk satu hal ini ?
Saya yang akan pergi, saya yang akan menghilang, tapi saya juga yang akan kehilangan dia setengah mati.

Belum ada yang tahu, apa saya akan mengalami patah hati yang parah ? Dan apakah akan lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Toh saya tidak akan mengukurnya. Buat saya, semuanya itu sama. Menyedihkan !
Namun dengan berjalannya waktu, saya percaya luka akan kembali tertutup. Saya percaya segala sesuatu yang awalnya mustahil untuk dijalani, perlahan akan menjadi suatu kebiasaan. Saya akan terbiasa hidup tanpanya. Saya akan terbiasa tidak lagi mendengar suaranya. Saya akan berhenti merindukannya dan memanggil namanya dalam hati. Saya tahu, semuanya akan kembali baik-baik saja.. separah apapun hati ini pernah atau akan patah.

PS : dear XO, countdown really counts now.. I'll make sure I'll completely disappear. As if.. I were never exist.

Donnerstag, 10. September 2009

sh*t happens, but ..

Life' real failure is when you don't realize how close you were to success when you gave up
(http://thinkexist.com/quotations/failure/)


no, i will not give up
I will just try and try again
and if I fall
I know I can get up again
,
it can be hard
it may take time

but it doesn't matter
as long as I know
as long as I believe
in Him, I will just be OK.


why Iris-Pic ? because it means Hope.

Montag, 31. August 2009

disiplin untuk setia


Dear Padre,

lagi-lagi ini surat dari saya. Tolong jangan enggan meneruskan membacanya, saya berjanji kali ini tidak akan ada protes atau keluhan.

Sebenarnya saya sering bertanya-tanya, buat apa menuliskan surat seperti ini, atau mengucapkan kata-kata lewat doa, apabila Kau melihat semuanya lebih jelas - apabila Kau mengetahui segala sesuatunya lebih dari yang lain. Saya percaya Kau bahkan lebih mengerti dari saya sendiri, apa yang hati saya inginkan. Tapi biarlah saja ini terjadi, karena ini adalah bentuk dari suatu komunikasi, ya.. ini yang membuat saya merasa aman dan percaya Kau selalu serta. Biarkanlah saya tetap menuliskan surat-surat kepadaMu, mengucapkan kuncup-kuncup doa kepadaMu, dan melantunkan pujian untukMu - biar saya tetap bisa merasakan dekat padaMu, biar saya tetap merasakan betapa melimpahnya kasihMu melalui doa yang didengarkan dan permohonan yang dikabulkan.

Seperti yang saya janjikan, kali ini tidak akan ada protes.. tidak ada keluhan.. . Saya hanya ingin mengucap syukur untuk kesabaranMu selama ini, dan memohonMu untuk tetap bersabar sampai nanti. Saya sadar, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk saya menyadari bahwa beban yang terasa begitu berat saya tanggung, sebenarnya hanyalah sepertiga nya saja. Engkau yang menanggung duapertiga nya, Engkau yang selalu sudah matang-matang memperhitungkan semuanya yang bisa jadi kapasitas saya. Saya percaya, bahwa pencobaan yang mungkin Kau turunkan untuk saya, adalah pelajaran yang melatih saya untuk tumbuh menjadi lebih besar dan lebih dekat lagi di dalam Mu. Saya percaya, bahwa Kau tidak memilihkan pencobaan untuk saya yang terlalu sulit atau terlalu berat untuk saya tanggung. Kau selalu ada, Kau selalu rela menyodorkan kedua tanganMu untuk membantu saya mengangkat bebannya. Masalahnya adalah, saya seringkali tidak lagi mengingat hal itu saat saya terjebak pada situasi yang saya anggap sebagai jalan buntu. Saat saya merasa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berhasil, namun kegagalan lah yang saya dapatkan, saya mulai tidak setia padaMu, saya ngedumel, saya mempertanyakan keberadaan dan kebesaran hatiMu. Saat saya merasa sudah memberikan yang terbaik dari diri saya, namun balasan buruk adalah apa yang saya terima, saya mulai memalingkan diri dariMu, saya merasa dibohongi, dan meragukan cinta sejatiMu. Saat masalah demi masalah datang bergantian, saya sering melupakan bahwa saya hanya bisa menyusun rencana, namun rencana dan kehendakMu lah yang baiknya terjadi.

Inilah inti surat saya kali ini. Saya mohon tetaplah sudi bersabar menghadapi saya yang dungu tapi keras kepala ini. Mohon tetap berkahi saya kedisiplinan setia berjalan di dalamMu. Agar mata ini tak beralih dariMu satu detik pun, saat langit cerah ataupun saat badai menerpa. Mohon tetap ingatkan saya untuk tidak gentar menghadapi masalah, karena tidak ada satu masalahpun yang tidak turut Kau tanggung. Tetaplah bersabar.. , tetaplah pelihara saya.. karena hanya dengan bersandar padaMu lah, saya berani tetap melangkah seberat apapun bebannya, segelap apapun jalannya.

Terimakasih untuk sudah meluangkan waktu dan membaca sampai kalimat saya yang terakhir. Terimakasih untuk penyertaan sepanjang hari ini.

dengan segenap rasa,
hambaMu yang masih harus banyak belajar.

Mittwoch, 26. August 2009

berteman, itu memilih ?

Besok pagi saya akan menemani seorang teman pindahan ke luar kota, sekitar 600km di sebelah utara München. Dia bukan lagi seorang mahasiswi kedokteran, di kota baru itu dia akan memulai kehidupannya sebagai seorang asisten dokter.

Dalam setahun terakhir ini, bisa dibilang, dia lah teman terdekat saya di München. Bukan hanya karena faktor tempat tinggal yang dekat ( kita tinggal di apartemen yang sama, dia lantai 1, saya lantai 2 ), tapi juga faktor hati dan rasa. Ada beberapa persamaan, yang mungkin mempererat pertemanan dia dan saya. Dia pernah -merasa- ditinggalkan oleh sahabat karibnya, saya juga. Dia -merasa- sudah berusaha untuk menempatkan diri sebaik mungkin, supaya bisa tetap bertahan mendapatkan tempat di hati sahabat karibnya, saya juga. Dia -merasa- serapi mungkin sudah memoles semua buruknya, menjaga agar persahabatannya langgeng, saya juga. Dia akhirnya -merasa- bahwa semua yang dia usahakan hanya membawa nihil, dan sedikit demi sedikit mengendorkan kepercayaannya terhadap persahabatan itu lalu berusaha untuk tetap jalan melihat ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang, saya juga.
Mungkin karena adanya kemiripan pengalaman , dia dan saya bisa jadi lebih mengerti satu sama lain. Kami sama-sama tahu, seberapa sakitnya ditinggal oleh sahabat karib. Kami sama-sama tahu, betapa kami takut untuk sekali lagi mempercayai dan menganggap seseorang itu sahabat karib.
Saya percaya tidak ada yang terjadi hanya karena kebetulan. Saya percaya, kalaupun ada suatu kebetulan itu, itupun sebenarnya sudah direncanakan. Saya percaya, dipertemukan atau didekatkannya dia dan saya sejak sekitar tahun lalu , bukanlah suatu kebetulan. Justru dari ketidaksempurnaannya dan saya, kami bisa saling melengkapi. Justru karena ada luka dan trauma yang kami simpan dalam-dalam, kami bisa saling menghargai dan menjaga untuk tidak saling melukai.

Teman / Pertemanan .. kedua kata itu selalu berhasil membuat saya merenung lama. Mengingat-ingat orang lalu lalang dalam kehidupan saya. Mampir, tinggal, pergi. Kenalan, berhubungan, bersahabat, pertengkaran, perpecahan, perpisahan. Sebagai seseorang yang tinggal jauh dari orangtua dan saudara, saya tahu benar seberapa besar arti teman. Saya bukan orang yang gampang berteman dengan siapa saja, sayangnya bukan. Saya juga bukan orang dengan hati yang besar, yang mau membuka telinga untuk siapa saja yang butuh didengarkan, sayangnya bukan. Tapi saya tahu benar, apa yang bisa saya berikan, akan saya berikan untuk teman saya - untuk sahabat saya. Suatu emosionalitas yang tinggi inilah, yang justru selalu membenturkan saya pada kenyataan, bahwa teman atau pertemanan pun tidak abadi. Sama seperti segala sesuatu lainnya, pertemanan pun sepertinya punya takaran yang bisa berubah atau bahkan menjadi habis !
Saya semakin menjadi tidak yakin, mana yang lebih baik, berjalan sendiri dan sepi, tapi tidak mengalami sakit karena ditinggal atau dikhianati, atau menjalin pertemanan dengan risiko ditinggalkan dan lagi-lagi merasa sakit dan kecewa.

Saya berharap suatu waktu nanti saya bisa menilai hal-hal dengan lebih jelas dan menemukan jawaban atas keragu-raguan saya. Saya berharap saya bisa menjadi teman yang lebih baik , yang bisa lebih memahami keinginan orang lain. Dan saya juga berharap, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya tidak akan lagi terluka dalam, atas gores yang mungkin ditimbulkan oleh seorang teman.

Seberapa pantaskah, persahabatan itu diperjuangkan, seandainya seorang sahabat itu, pernah pergi meninggalkanmu dan tidak lagi menganggapmu ada ? Dan apakah, seorang itu masih layak dipanggil sahabat ?

Freitag, 7. August 2009

07. 08. 09


Tidak sedikit orang yang menganggap tanggal hari ini sebagai salah satu peristiwa unik. Saya bahkan mendapatkan SMS dari dua orang teman, dengan isi yang kira-kira sama. Mengingatkan saya, bahwa hari ini, pada jam 12 menit 34 detik 56, akan terjadi susunan angka 12.34.56 7.8.09 , sesuatu yang tidak akan terjadi dua kali.

Buat saya, hari ini adalah hari yang spesial. Bukan karena susunan angkanya yang hanya terjadi sekali saja. Bukan juga hari ulangtahun saya. Hari ini saya genap lima tahun sudah berada di Jerman.

6 Agustus 2004 saya terbang ke Jerman, untuk pertama kalinya. Sehari sebelumnya, saya benar-benar merasakan perasaan yang campur aduk. Antara senang, sedih, ragu-ragu, nervous, takut, penasaran, semuanya melebur menjadi satu. Saya tidak bisa tidur malam harinya, pelan-pelan menyelundup ke kamar orangtua saya, berencana untuk tidur di tengah-tengah mereka, tapi tidak jadi saya lakukan karena takut membangunkan mereka. Saya takut orangtua saya tahu kalau saya mulai ragu-ragu, dan mulai mempunyai rasa takut untuk pergi. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk diam saja di sofa depan TV, memandangi anjing puddel saya Chopin yang terlelap di samping saya. Sambil sesekali mengelus-elusnya, saya membayangkan betapa saya akan merindukannya.. Saya membayangkan kehidupan di tempat lain tanpa orangtua, tanpa Mbak, tanpa Chopin.. Saya tidak punya siapa-siapa di sana, apa saya betul mau ??

Semua perasaan takut dan ragu-ragu itu tiba-tiba meraib saat saya sudah duduk di dalam pesawat, dan siap diterbangkan sampai ke Jerman. Yang semakin menguat hanyalah itikad, menempuh satu jalan yang sudah dipilih setelah dipikirkan masak-masak.
Tanggal 7 Agustus 2004, pukul 13.05 waktu Jerman, saya mendarat di Düsseldorf . Dan malam itu, malam pertama saya berada di Jerman, adalah malam paling sepi , paling gelap, dan paling panjang yang pernah saya rasakan.

Hari-hari sesudahnya, tidak separah atau semenyedihkan yang saya kira. Saya mulai paham, memisah-misahkan sampah, menggunakan kompor listrik, satu kunci untuk beberapa pintu. Saya mulai punya kenalan, teman, komunitas. Telinga saya mulai mahir menangkap setiap kata yang keluar dari mulut orang-orang Jerman, otak saya menjadi lebih catas melahirkan kata-kata dalam bahasa Jerman lewat mulut saya, pencernaan saya mulai doyan dan terbiasa dengan makanan makanan Jerman. Lambat laun, ritme kehidupan di Jerman pun saya temukan ..
Saya berasimilasi, mulai kerasan dengan kebiasaan-kebiasaan Jerman, namun selalu berusaha menyelaraskannya dengan kebudayaan Indonesia yang masih sangat melekat.

Berada di luar negeri, jauh dari keluarga dan orang-orang yang saya sayangi, bukanlah suatu hal yang mudah bagi saya. Beberapa hal terjadi, susah ataupun senang, dan semuanya itu harus saya hadapi sendirian. Tidak ada papa atau mama yang selalu bisa menjaga saya dari setiap masalah. Tapi saya merasa sangat bersyukur, saya bisa diberikan kesempatan seperti ini. Sangat banyak hal baru yang sudah dan masih akan saya pelajari di sini, baik itu pendidikan, kebudayaan, pemikiran, peraturan, birokrasi, ataupun sosialisasi. Saya akan mencoba menyerap sari-sari yang baik, dan dengan filter yang kokoh akan saya saring hal-hal yang saya anggap tidak perlu saya tanamkan pada diri saya. Sampai nanti suatu saat, kalau waktu nya sudah tiba. Kalau sudah cukup banyak pelajaran yang saya dapatkan. Kalau saya secara psikis dan fisik sudah jadi lebih matang. Saya akan pulang .. , saya akan kembali pada semua yang saya sayangi.

( meskipun sepertinya.., saya akan merindukan Jerman, kalau saat itu tiba.. )

Sonntag, 2. August 2009

lucky me, that he was ( is ) there !


buat saya, tidak ada dokter atau tabib atau dukun lain yang bisa menyembuhkan luka hati saya secepat dan sesempurna Papa saya.
papa saya bukan orang yang penyabar atau telaten, tapi dalam hal menjahit luka hati saya, dia adalah dokter bedah andalan yang mampu merekatkan bagian yang tadinya sobek dengan sempurna. seperti pernah menekuni pelajaran bedah plastik bertahun-tahun, dia merekatkan bagian hati saya yang tadinya terbelah, kembali menjadi utuh lagi tanpa luka dan tanpa bekas jahitan. dia membuat hati saya berfungsi seperti normal lagi. dan yang lebih menakjubkan adalah, dia selalu siaga kapan saja dimana saja saya membutuhkannya. tidak peduli berapa kali saya memohonnya untuk menyembuhkan luka hati saya, dia melakukannya. entah di tengah malam, atau pagi buta, lewat ciuman , atau sekedar perbincangan kabel, dia punya proses penyembuhan yang jauh lebih mutakhir dari laparoskopi.

berkaitan dengan postingan sebelumnya. saya akhirnya sudah memutuskan untuk tidak lagi duduk diam seperti seekor siput buta. saya sudah berdiri, memutuskan berjalan ke depan, dan sudah mulai melangkah. ya, saya telah mengambil keputusan. satu keputusan yang mungkin tidak akan berani saya ambil, tanpa kata-kata mujarab dari papa saya. dan nanti, seandainya toh jalan yang saya pilih ini tidak semulus dan senyaman yang saya harapkan, saya tidak akan menyesal ! yang saya lakukan hanyalah untuk tetap terus bertahan, merangkak, tiarap, melompat, apapun.. demi meraih tingkat berikutnya, dimana jalan yang lebih lapang dan mulus sudah menunggu saya.

Du triffst die Entscheidung, und blickst nicht zurück !

PS : pop,thanx for alwiz there,everytime I need you. thanx for listening to me. thanx for sharing with me. thanx God for blessing me dat much and being so kind to me, that I may have you as my father in this life.

Samstag, 1. August 2009

the road of life


seandainya hidup ini saya umpamakan sebuah jalan berliku yang penuh persimpangan. saya merasa saat ini sedang terpental, pada satu jalan yang gelap gulita. tidak setitik cahaya pun berpendar di sana. saking gelapnya, saya tidak yakin, apakah saya masih berada pada jalannya, atau saya sudah terhempas entah kemana. saya melepas alas kaki saya, membiarkan telapak kaki saya menjejak-jejak kecil tanah yang saya injak, memastikan saya masih berdiri dan menginjak pada medium yang seharusnya. saya tidak berani melangkah kemana-mana. saya tidak tahu, apakah depan, belakang, kanan, atau kiri saya adalah jurang yang bisa membuat saya celaka jika ceroboh dan tergesa-gesa dalam melangkah. saya memutuskan untuk duduk.. berpikir, apa yang harus saya lakukan. saya berdoa dan berharap ada cahaya dikaruniakan untuk saya.. , atau mungkin kalau bukan cahaya, cukup suara yang bisa membimbing ke mana saya bisa berani melangkahkan kaki saya.

setiap hari di dalam hidup, tanpa disadari kita terlatih untuk membuat keputusan keputusan. bangun, mandi, kaos kuning muda dengan gambar lebah, blue jeans, sepatu putih tanpa tali, pergi kuliah, menyapa teman, duduk di bangku belakang paling kanan, semuanya merupakan suatu keputusan.
hidup saya di dunia ini sudah selama 23 tahun, entah sudah berapa banyak keputusan yang saya ambil. namun hari ini, masih sampai detik ini.. saya tidak tahu apa yang harus saya putuskan. saya seperti merasa tidak punya pilihan. ketakutan untuk mengambil keputusan yang salah sangatlah nyata. jadi saya membiarkan diri saya menjadi siput buta.. saya akan bergerak sangat lamban dan berhati-hati.. sampai saya pasti, keputusan mana yang harus saya ambil. sampai saya yakin, keputusan itu lah yang diinginkanNya untuk saya ambil. dan kalau keputusan itu sudah di tangan saya, apapun nantinya yang akan terjadi, saya akan menerimanya. saya tidak akan lagi menoleh ke belakang !

untuk ma dan pa. saya minta maaf untuk semua kebodohan kebodohan yang sudah saya lakukan, yang menjadikan hidup kalian jadi lebih berliku dan berat dilewati. tapi ingat selalu, saya mencintai kalian, sangat mencintai kalian. dan saya, tidak akan pernah membuat kalian malu !!

Freitag, 24. Juli 2009

saying goodbye is never easy

Dua hari yang lalu saya menuntaskan bagian pertama ujian negara saya. ya, itu baru bagian pertama, bagian kedua nya ada sekitar tiga minggu ke depan. Begitu keluar dari ruang ujian, dan mendapatkan kata-kata 'selamat, Anda lulus' dari para penguji, berhamburanlah di kepala saya, hal-hal menyenangkan yang akan saya lakukan setibanya di rumah. Saya membayangkan menelpon kedua orang tua saya dan mengabarkan saya lulus ujian babak pertama ini, saya membayangkan mereka akan tertawa dengan riang. Saya membayangkan akhirnya saya bisa surfing-surfing di internet sambil mendengarkan musik keras-keras. Saya juga membayangkan akhirnya saya bisa bertelpon atau berchatting ria dengan 'dia' , yang selama persiapan ujian kemarin sering tidak saya acuhkan.

Sebut saja namanya 'Shika'. Dia tidak tinggal di kota yang sama dengan saya. Tapi mungkin karena punya nasib yang sama, sama sama orang indo yang lagi menambah ilmu di jerman, sama sama jauh dari papa mama dan keluarga, sama sama membutuhkan tempat untuk curhat dan sekedar ngobrol omongkosong , saya dan Shika jadi sering ngobrol lewat messenger 'chatting'. Chatting itu seperti menjadi rutinitas buat kita berdua. Disadari atau tidak, Shika menjadi suatu bagian yang 'penting' dalam keseharian saya. Saya merasa masih ada yang kurang lengkap kalau saya tidak melihatnya online. Saya merasa ada yang tidak sama di hari saya, kalau saya belum menegursapa nya lewat messenger. Shika mempunyai porsi yang bahkan mungkin lebih penting, dari teman-teman saya yang sekota dengan saya dan yang bisa saya lihat setiap hari. Saya bisa bercerita banyak hal , dan dia mendengarkan.

Suatu hal yang masih belum bisa saya mengerti dari Shika adalah, saat dia tiba-tiba menarik diri, dan berubah sikap 180 derajat. Saya tidak pernah tahu apa sebabnya. Tiba-tiba dia diam, dia tidak peduli dengan semua apa yang saya ceritakan, dan kadang bahkan dia menghilang. Saya pernah bertanya dan memintanya terusterang, kalau saya melakukan kesalahan, tolong marahi saya, tolong konfrontasi saya, tapi jangan diamkan saya, dan jangan diam-diam menghilang dari hidup saya. Shika bilang, itu lah dia apa adanya. Bukan saya yang salah, tapi memang seperti itulah dia. Dengan kalimat seperti itu, semuanya seperti tanda bagi saya, bahwa Shika masih melarang saya masuk ke sebagian hidup dia. Ada batas-batas dimana saya harus tahu, kapan saya harus berhenti untuk tidak mencoba mencampuri hidupnya. Saya mencoba mengerti, saya mencoba memahami, karena saya menganggapnya penting, saya ingin Shika tetap menjadi teman saya.. saya ingin dia tetap ada di hari-hari saya. Sifatnya akan kembali berubah menjadi biasa, setelah beberapa hari. Dia akan kembali menjadi Shika yang normal, dan Shika yang hiperaktiv. Lalu suatu saat dia kembali lagi begitu diam, dan tidak peduli dengan apa-apa sama sekali, dan menjadi normal lagi di lain waktu. Saya tidak pernah tahu, apa ? kenapa ? kapan ? siapa ? . Saya hanya bisa bermain judi, menang - adalah saat Shika mempunyai mood yang baik , kalah- adalah saat Shika begitu menutup diri dan membiarkan saya bertanya-tanya sendiri.

Dua hari yang lalu, setibanya di rumah setelah mendapatkan pernyataan saya lulus ujian. Hal pertama yang saya lakukan adalah menelpon papa mama saya. Setelah itu, yang hanya di pikiran saya adalah Shika, cuma Shika ! Saya mau memberitahu kelulusan saya. Saya ingin berbagi berita gembira dengan dia. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa dia teman yang penting dalam hidup saya. Bahwa meskipun saya dan dia sudah sangat lama tidak bertatapmuka dan hanya berhubungan lewat kabel, dia punya arti yang besar dalam hidup saya ! Dan saya menghargai itu semua ! Namun kadang hal-hal terjadi di luar angan-angan kita. Saat saya mengabarkan dan menceritakan itu semua, saya tidak mendapatkan respon yang saya bayangkan dari Shika. Dia tidak sedang dalam mood nya yang bisa ikut-ikut bergembira bersama saya. Saya bahkan tidak yakin, apa sebenarnya dia mendengarkan semua yang saya ceritakan. Tidak bisa saya pungkiri, saya sangat kecewa. Saat itu saya memutuskan untuk mengakhiri konversasi dengannya, mematikan komputer, mematikan lampu, membuka jendela lebar-lebar, lalu tidur.
Sebelum saya terlelap dalam dunia mimpi saya, saya menyadari sarung bantal saya basah ..

PS : Saya TIDAK cengeng ! saya hanya merasa diri saya terlalu menyedihkan, karena saya tahu, saya tidak akan bisa menerima Shika saat dia datang lagi.

PPS : pergi dari Shika adalah alasan ke dua, mengapa rumah baru ini didirikan.