Freitag, 7. Juni 2013
Sonntag, 12. Mai 2013
Das Leben geht weiter .
banyak sekali bahan yang seharusnya bisa dituliskan
dari kehidupan sehari-hari, yang tampaknya biasa-biasa saja, tapi sebenarnya selalu membawa warna baru
dari renungan-lamunan-pikiran-atau sekedar emosi emosi gila yang sering datang tanpa diminta
dan tentunya.. dari mengamati hiruk pikuk hidup .
sedihnya,
intensitas menulis yang makin menurun
membikin tingkat kesulitan menulis jadi semakin tinggi ( setidaknya untuk saya )
susah sekali, bahkan untuk memutuskan kalimat pertama dari paragraf pembuka
ide-ide yang muncul di benak dan berteriak meminta dituliskan
sering harus puas dengan sekedar mencapai batas " draft " tulisan
padahal, menulis sering saya padankan dengan terapi gratis
dengan menulis, saya merasa emosi saya di'stabil'kan
dengan menulis, saya merasa, saya bisa tetap waras.
tidak banyak hal baru atau perubahan yang terjadi dalam hidup saya di akhir-akhir ini
namun semakin hari, semakin saya bersyukur, untuk semua yang boleh terjadi dalam hidup saya
untuk kedua orangtua saya , yang selalu mensupport saya secara fisik dan psikis
untuk teman dekat saya , yang masih setia bertahan dengan kegilaan-kegilaan saya , dan menyayangi saya apa adanya
untuk pekerjaan saya , yang melatih saya untuk terus berkembang , mendidik saya untuk menjadi satu pribadi dengan berbagai macam sikap : tegas , disiplin , lembut , ramah , tidak basa basi , pengertian , sabar , harus bisa dipercaya , dan semua itu sekaligus.
saya bukan malaikat, apalagi dewa
tentu saja , saya tidak selalu berhasil , justru sebaliknya
namun saya belajar... itu tidak mudah, tapi saya menikmati proses belajar ini
rasa bosan di hari sabtu dan minggu , dan rasa rindu kepada para pasien , menyadarkan saya, bahwa saya beruntung ! karena saya mempunyai pekerjaan, yang saya cintai.
jadi...
seperti yang pernah saya katakan kepada seorang teman
mungkin tidak perlu mengkhawatirkan kewarasan diri sendiri
mungkin dunia ini juga tidak selalu waras
mungkin .. ?
tapi yang pasti
saya akan tetap bertahan
( doakan saya )
Samstag, 20. Oktober 2012
Jangan labeli saya, dengan label yang tidak tepat !
Saya terus terang tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. Bukan karena saya tidak peduli dengan nasib teman saya. Justru karena saya tahu persis apa yang dia rasakan. Saya tahu bagaimana rasanya ditatap aneh lebih dari sepasang dua pasang mata. Saya tahu bagaimana rasanya mendengar bisikan bisikan julukan cina cino chinese. Umur saya sekarang dua puluh enam tahun. Dan dalam dua puluh enam tahun ini, saya tidak menjadi biasa dengan tatapan aneh itu. Julukan julukan itu tidak menjadi nyaman di telinga saya. Intinya, ya.. secuil dari saya tetap masih saja terluka, bila ditatap aneh seperti alien, atau bila dipanggil cina cino chinese.
Tanpa saya bisa memilih. Tanpa ada satu tangan pun saya acungkan untuk bisa mengatur. Tanpa sejentik kuasa .. saya terlahir di Jogjakarta. Salah satu profinsi yang ada di Indonesia. Sejak detik saya lahir, bahasa yang saya dengar di telinga saya adalah bahasa jawa campur indonesia. Lagu-lagu yang saya pertama pelajari adalah satu-satu aku sayang ibu, tentu saja dalam bahasa indonesia. Kemudian sekolah saya mulai dari TK - SMA juga di Indonesia. Saya berbicara dengan bahasa jawa campur indonesia dengan teman-teman saya. Makanan saya bumbu Indonesia. Angin dan air yang saya konsumsi juga tak beda dengan warga Indonesia lainnya. Apa yang membuat saya seenaknya dilabeli cina ?? Kenapa saya harus jadi cina, kalau ke cina pun saya belum pernah, dan bahkan tidak ingin ! Kenapa saya dianggap cina kalau bicara bahasa cina pun saya tidak bisa. Kalaupun leluhur saya berasal dari cina, apakah itu kemauan saya ? Apa dari awalnya saya disodori formulir dengan jawaban yang bisa saya pilih sendiri untuk menyatakan keinginan saya berasal dari bangsa mana ?
Saat ini saya sedang menjalani kuliah di negara Jerman. Orang-orang Jerman tentu saja kesulitan untuk mengetahui dari wajah saja, dari manakah asal saya. Tidak jarang mereka menyapa saya dengan bahasa cina. Saya selalu menjawab nya dengan bahasa jerman. Saya bukan orang cina, saya tidak mengerti bahasa cina, saya orang Indonesia ! Dan jawaban itu, keluar dari hati saya. Karena saya memang lebih bangga sebagai orang Indonesia. Karena saya memang lebih berbesar hati, menjadi seorang Indonesia.
Saya tidak tahu sampai kapan hal ini masih akan tetap berlanjut. Pengelompok-pengelompokan terhadap ras suku agama di Indonesia. Mungkin juga tidak akan pernah berhenti, akan selalu seperti ini. Saya tidak meminta keajaiban. Saya hanya memimpikan pengertian. Tolong mengertilah, bahwa saya terlahir dengan warna kulit, lebar mata, dan jenis rambut yang seperti ini, bukan pilihan saya. Tapi saya memilih untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Saya memilih untuk mencintai negara Indonesia. Tolong mengertilah apa yang bisa dan tidak bisa saya pilih atau tentukan. Tolong hentikan tatapan-tatapan aneh itu, karena saya bukan alien atau musuh. Tolong hentikan pikiran-pikiran yang seketika merayap di benak sambil menjuluki saya cina cino chinese, karena saya juga Indonesia, hanya saja dengan penampilan yang berbeda, dan saya tidak punya kuasa atas hal itu.
jikalau satu dari kalian, mau melabeli saya dengan suku, tidak ada suku lain yang saya kenal dan agungkan, selain seorang Jawa.
PS : tulisan ini hanya melarungkan sebuah mimpi . yang entah akan kemana . bukan bermaksud untuk menyinggung atau menjelekkan pihak mana pun. sama sekali tidak ada tujuan ke sana.
Freitag, 10. Juni 2011
ke-tiga
SMS :
sedang apakah kamu wahai lelaki ? sedang dimanakah ada mu ? aku tahu tempat terbaik mu adalah di sini. bersama ku. seharusnya. namun di mana pun berdiri mu saat ini. kupohonkan untuk mu. langit yang terang bersinar. agar lapang jalan mu tak perlu kau tersesat di satu simpang yang melintang. aku harapkan keberuntungan memilih untuk lekat dengan mu dan segala penyakit dan kebusukan menjauh dari diri mu. dan saat semua kerja mu sudah terselesaikan. saat gelap mulai menyapa dan kau mulai merasa lelah. datanglah kepada ku, wahai lelaki. satu-satu nya lelaki yang akan kucinta selama masih nafas ku bersarang. aku akan menyambutmu dengan pelukan terbuka. dengan harum tubuhku akan kubuai kau hingga terlelap membuang segala penat. dengan lembut belaiku akan kukirim kau ke tempat semua luka tak terlihat tersembuhkan. lelaki.. , jangan buat ku terlalu lama menunggu.
lelaki
SMS :
seandainya bisa. kamu tahu, akan kuputar waktu untuk mengulang segalanya. yang akan kupilih adalah kamu, dan bukan dia. entah ramuan apa sudah membutakanku di masa lalu hingga aku memilihnya. entah jampi-jampian macam apa sudah membuatku sekhilaf itu untuk mengikat janji suci sehidup semati dengannya. cih ! bukan untuk dia. namun untuk kamu, aku rela melepaskan nyawa ku. sayang, kamu tahu saat ini aku sedang di mana. percayalah aku muak berada di sini. dan yakinlah, meski tubuh ini tidak bersama mu, namun pikiran ini selalu menuju pada mu. hanya wangi mu semerbak di cium ku. hanya gelak manja mu ngiang di dengar ku. dan hanya bersama dengan mu lah yang kuingini saat ini. sayang, tidak akan kubiarkan kamu menunggu lebih lama lagi. tunggu !
wanita
benak :
kesalahan apa yang begitu fatal yang sudah kuperbuat ? yang membuat mu berpaling. yang membuat mu menyatakan diri mu sendiri sebagai buta dan khilaf , karena pernah mencintaiku. bukan kah itu dulu memang cinta ? seharusnya kamu adalah orang yang paling tahu. tidak pernah ada ramuan. tidak pernah ada muslihat. apa yang sekarang harus ku lakukan untuk mengingatkan mu kembali pada rasa mu yang dulu ? tubuhku memang bertambah tua. tidak ada yang bisa kubanggakan untuk ditandingkan dengan nya. nya, kepada nya kau kini mengemis cinta. namun rasa ku untuk mu masih lah sama. belum keriput seperti kulitku. belum menipis seperti rambutku. kamu lah imam ku. yang akan ku ikuti kemana pun langkahmu pergi. dalam gelap dalam terang. dalam tangis dalam tawa. dengan mu lah aku sanggupi menanggung semuanya bersama. katakan lah pada ku, wahai imam ku. apa yang harus kulakukan ? kalau rumah ini kini sekedar bangunan tak bermakna bagimu. kalau pulang adalah kata yang kamu benci setengah mati. kalau kebersamaan dengan ku adalah hal yang paling ingin kau akhiri.
seberapa yakinkah diri mu, kalau dia mencintai mu , seperti aku mencintai mu ? apakah kilauan paras nya sebanding dengan tulus hati nya ? apakah cukup dia bernyali menjemput mati, menahan sakit , untuk melahirkan anakanak mu ? benarkah yang dicintainya adalah utuh diri mu , bukan hanya kokoh dan sehat mu ?
aku. aku yang ada di sini, dari semula hingga saat ini. dan aku akan masih tetap berteduh di sini, di bawah janji suci pernah sekali kita ikrarkan bersama.
aku. aku yang akan tetap ada di sini. jadi jika suatu saat. kamu ingin pulang. jika suatu saat. kamu merindukan rumah mu. kamu tidak akan kesepian. kamu tidak akan sendirian. karena aku menunggu. sampai kapan pun kamu siap. aku menunggu.
dengan tulisan ini, saya hanya ingin melaknatkan semua bentuk perselingkuhan. baik dalam suatu pernikahan. atau tunangan. atau pacaran. it's coward ! and it's not fair !!
tulisan ini cuma gambaran. dan tidak berarti saya memojokkan salah satu gender. bukan berarti saya beranggapan pihak yang ditinggalkan selalu wanita, dan yang meninggalkan selalu pria. hal ini TENTU saja dapat terjadi sebaliknya.
for all curious readers :P ,
it's not about me. i have a great boyfriend and i believe in him.
Sonntag, 8. Mai 2011
R , is what you act .
dan hari ini, saat saya dan dia diijinkan berpapasan di tengah jalan, dia bahkan tidak membalas uluran tangan saya, saat saya berusaha menjabat nya. dia hanya bertanya datar. pertanyaan yang sudah saya ramalkan akan keluar dari mulutnya. kenapa saya tidak datang lagi ke tempat itu ? saya tersenyum. simpul. lalu kembali melontarkan tanya " apa kamu akan mau menjabat tangan saya lagi, kalau saya kembali ? " dia tidak menjawab. saya menginginkan suatu reaksi dari wajahnya. tapi nihil. saya tidak mendapatkan apapun. saya tidak tahu apa sekarang dia membenci saya, jijik terhadap saya, kaget bertemu dengan saya lagi, atau memang tidak lagi ambil pusing apapun mengenai saya.
sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang hal ini di blog. tapi rasa ewuh selalu menahan keinginan saya itu. namun ijinkanlah saat ini saya menuliskannya. bukan untuk dibaca siapa. bukan untuk membuat apa. hanya untuk saya sendiri.
tempat yang dari tadi hanya saya sebut dengan kata ganti 'itu' , adalah suatu tempat ibadah. tentu saja tempat ibadah sesuai dengan agama yang saya peluk. tempat yang dulu setiap minggu minimal satu kali saya kunjungi. untuk berdoa. untuk memohon. untuk bersyukur. untuk berkeluhkesah. untuk memuji. dan.. untuk bersosialisasi horizontal kepada sesama saya yang juga berkunjung. pada awalnya, saya sudah merasakan, ada hal-hal yang membuat saya kurang nyaman di situ. namun saya berusaha menekannya untuk keluar dari ego saya. saya berusaha menetralkannya dengan pikiran bahwa hal itu karena saya masih baru di tempat itu. saya pikir, lama-kelamaan, saya akan makin bisa beradaptasi. minggu pertama, minggu kedua.. hingga tahun kedua, saya tetap berjemaat di situ. sampai suatu saat, saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri ' kamu harus keluar - lepas dari semuanya ini ! ' .
apa yang sebenarnya terjadi ? pergejolakan apa yang saya dapati ? saya mendapatkan teman-teman yang super care dan super fun ! tidak ada yang salah dengan hal itu. namun beberapa prinsip. beberapa pola pikir. dan beberapa kepercayaan yang ada dalam kepala mereka, tidak bisa saya 'iya' kan.
saya memang memeluk satu agama. bukan dua. bukan tiga. dan saya hanya pergi ke satu tempat ibadah. bukan beranekawarna. tapi bukan dengan begitu saya menganggap agama yang lain tidak ada. bukan dengan begitu saya menganggap tuhan saya paling benar dan paling nyata. bukan dengan begitu saya menganggap hanya agama saya yang bisa menyelamatkan umatnya, sementara umat lain akan tak terselamatkan.
saat saya berdoa. yang saya butuhkan bukan medium atau pemirsa. saya butuh hati saya, saya butuh konsentrasi saya untuk bisa berdoa dengan jujur dan tulus. menurut saya, mendoakan orang dengan keras-keras dan diperdengarkan di hadapan orang banyak, adalah seperti mencari pujian untuk diri sendiri.
hari ini, saat ini.. beberapa tahun setelah saya berhenti mengunjungi tempat itu. mereka berpikir bahwa dengan meninggalkan mereka, saya menjadi mahluk tak ber tuhan. namun benarkah begitu ?
saya meninggalkan tempat itu, bukan karena saya berhenti percaya kepada Nya. saya berhenti mengunjungi tempat itu, dan berhenti mengikuti upacara-upacara nya, karena saya percaya Dia ada. dan yang saya maksud dengan Dia ada, adalah bahwa Dia benar-benar ada. di sini, sekarang, di mana-mana, dan kapan saja. saya tidak perlu berteriak keras-keras memanggilNya. karena Dia mendengar semua bisikan hati saya, bahkan sebelum saya sendiri mendengarnya. saya tidak perlu menjelek-jelek kan kepercayaan lain, untuk menambah iman saya. karena memang itu tidak perlu. iman saya nyata. dan keberadaanNya adalah nyata dalam kehidupan saya sehari-hari. di setiap hembus nafas, hangat matahari, dan kilau bintang yang boleh saya dapatkan setiap hari nya. apalagi yang perlu dibela ?
apakah saya menyesal , meninggalkan tempat itu ? yang saya sesali adalah karena saya harus rela kehilangan teman-teman yang super care dan super fun (but then.. i knew which one is my true friend since that) . yang saya sesali adalah bahwa saya tidak lagi bisa melihat anak-anak bayi yang dulu sering saya temui di situ ( and yes, i miss them.. ) . but seriously.. , yang saya tinggalkan adalah gedungnya. yang saya tinggalkan adalah tatacara nya. saya tidak akan meninggalkan Nya. saya tidak akan mungkin bisa.
so, here I am Padre. still belongs to you. and will always be like that.
Religion is what you act, not what you believe. *unknown
Donnerstag, 18. November 2010
sometimes you get the lesson from where you less expect it
Saya percaya, saya bukan satu-satunya di ruangan itu yang terkejut, saat pertanyaan itu dilontarkan. Sejenak hanya hening yang menguasai. Tidak ada bisikan atau percikan tawa yang biasanya terdengar di tengah ruang kuliah. Saya masih berusaha mengolah pertanyaan itu di otak sekali lagi, berusaha meyakinkan diri sendiri, apa yang saya pahami, sesuai dengan apa yang memang ingin dipertanyakan. Bagaimana , saya menginginkan kematian saya ? --
" Schnell und schmerzlos " , dua kata itu yang kemudian saya dengar dari dalam diri saya sendiri, sebagai jawaban. " Singkat dan tanpa rasa sakit " Itu adalah jawaban saya . Mungkin itu terkesan seperti suatu spontanitas, mengingat tidak sampai dua menit saya berpikir, dan muncullah pemikiran itu.. namun kalau saat ini, saya diberikan waktu lagi untuk berpikir secara jenak dan tidak usah tergesa-gesa, saya rasa jawaban saya masih akan tetap sama.
Saya ingin , saat kematian menjemput saya, saya tidak harus merasakan sakit, dan saya ingin, hal itu berjalan singkat.
Beberapa hari setelah nya, saya diberi kesempatan untuk berkenalan dengan seorang pasien. Seorang istri yang penuh hormat kepada suami nya, dan juga seorang Ibu untuk dua anak yang diadopsinya dari panti asuhan namun dirawatnya seperti anak-anak yang ia besarkan di rahim nya sendiri. Seorang pasien yang saat saya temui sedang merajut topi untuk bayi tetangga nya yang akan lahir kira-kira nanti seminggu sebelum natal. Dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Mengijinkan saya memeriksanya. Menjawab semua pertanyaan saya dengan lengkap dan jelas. Saya tidak mendengar sedikit pun rasa takut atau gentar dari suaranya. Saya tidak menangkap secuil pun rasa ragu atau takut maju dari binar matanya. Dari bibirnya, tidak pernah lewat satu kalimat pun tanpa senyum.
Ibu itu.. , harus merelakan satu indung telur nya diambil saat dia masih berusia 16 tahun. Satu tahun setelahnya, dia harus kembali merelakan indung telur sebelahnya. Saat usianya menginjak 30 tahun, saat di mana dia dan laki-laki yang dicintainya sudah hidup sebagai suami istri, dia harus merelakan rahim nya diangkat. Sejak hari itu dia belajar menerima kenyataan bahwa dalam hidupnya kali ini, dia tidak akan bisa melahirkan bayi-bayi dari rahim nya sendiri. Tapi itu bukan berarti dia tidak bisa melahirkan cinta untuk bayi-bayi yang dilahirkan dari rahim wanita lain. Perjuangannya tidak berhenti di situ. Tumor yang ada di perut nya seperti tidak ingin dimatikan. Beberapa tahun kemudian, usus besar nya harus dikeluarkan. Dan saat ini, sisa usus yang ada di perut nya hanya 60cm. Sementara sel kanker nya masih tetap terus menyebar, dan saat ini mulai menyerang ginjal nya, ada penyakit lain yang ditemukan yang menyerang pembuluh darah nya. Satu penyakit yang tidak sering ditemukan, dan jarang ditemukan pada wanita. Satu penyakit yang tentu saja semakin memperburuk keadaannya. Namun Ibu itu menceritakan semuanya kepada saya dengan tersenyum. Saya tidak tahu, kekuatan dan ketabahan dari mana yang dia punya. Saya tidak mengerti, daya dari mana yang merasuk di diri nya. Saya kagum, juga merasa malu. Parameter vital saya boleh jauh lebih stabil dari ibu itu. Daya tahan tubuh saya boleh lebih kuat dari ibu itu. Namun semangat hidup nya, namun ketabahannya menghadapi masalah, namun daya juangnya... jauh lebih besar dari yang saya punya. Saat waktunya saya harus pergi dan berpamitan dengan ibu itu, dia mengajukan pertanyaan kepada saya. Dengan suaranya yang ramah dia bertanya " menurut buku-buku dan ilmu yang kamu pelajari, berapa lama waktu yang masih saya punyai ? " Sejenak saya hanya bisa menatapnya. Menatap sosok wanita tegar dengan badan yang kecil dan terbalut jaket merah muda nya yang panjang.. Saya tidak mampu menjawabnya. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya.. tapi lebih karena saya tidak mau menjawabnya ! Lalu saya kembali mendekat padanya, meletakkan semua berkas dan alat-alat tulis saya di atas ranjangnya, dan saya memeluknya. Erat... erat sekali sampai saya sanggup merasakan denyut nadi nya. Lalu dia berkata pelan " masa bodoh dengan apa yang dikatakan buku-buku mu. saya akan tetap hidup sampai kapan saya diberi hidup. tidak akan ada yang tahu. tidak kamu. tidak dokter-dokter spesialis itu. tidak saya sendiri. cuma Dia yang tahu. "
tentang mati ... kadang orang merasa hal itu terlalu tabu dibicarakan. seperti suatu akhir dari segalanya, dan suatu momok yang sangat mengerikan. tapi benarkah begitu ?
tidak kah seharusnya kita lebih takut pada hidup, karena dari situ lah semuanya ditentukan?
kalau saya menjalani hidup ini sebaik mungkin.. kalau saya menghargai hidup ini sama seperti saya menghargai dan menghormati Pemberi nya.. saya rasa saya tidak akan perlu takut menghadapinya suatu saat nanti .. menghadapi kematian...
As long as You guide me, I shall be OK.
Dienstag, 16. November 2010
just a meaningless time killer
okay,..
this might be kinda childish.. but this time am just soooo bloody bored. let me please just fill this..
TEN ARE YOU’S. 1. Are you single - nope 2. Are you happy - yes 3. Are you bored - oh geeez, yess! pretty much ! someone entertain me please. 4. Are you naked - nope 5. Are you a blonde - nope 6. Are you moody - sometimes 7. Are you a lover/hater? - depends 8. Are you hot/cold - depends 9. Are you Irish - nope 10. Are you Asian - yep TEN FACTS. 2. Nickname - cynt 3. Any birth marks - yes 4. Hair color - dark brown 5. Natural hair color - dark brown 6. Eye color - dark brown 7. Lover - him 8. Mood - am bored !! 9. Favorite colours - white, black, purple 10. One Place You Want to Visit - i just wanna go home, so Indonesia ! TEN THINGS ABOUT YOUR LOVE LIFE. 1. Do you believe in love at first sight - nope 2. Do you believe in soul mates - not sure 3. Are you straight - of course 4. Have you ever been hurt emotionally - sure 5. Have you ever broke someone’s heart? - i don't know, i hope not 6. Ever had your heart broken? - yes 7. Have you ever liked someone but never told them? - no 8. Are you afraid of commitment? - no 9. Who was the last person you hugged? - i hugged ? hmm..forgot.. might be Julianne 10. Who was the last person you said I love you to? - him !! TEN THIS OR THAT. 1. Love or lust - Love 2. Lies or truth - Truth 3. Cats or dogs - Dogs 4. A few best friends or many regular friends - A few and true best friends 5. Television or internet - internet, i don't even have TV 6. Chinese Or Indian - Chinese 7. Wild night out or romantic night in - Romantic night.. just by hearing the words 'night' , i feel so romantic :P 8. Money or Happiness - Happiness 9. Night or day - Night 10. Msn or phone - Phone, errr and yes Skype please :D TEN HAVE YOU EVER. 1. Been caught sneaking out - Nope 2. Been skinny dipping - Nope 3. Bungee jumped - Nope 4. Finished an entire jaw breaker - Nope 5. Lied to someone you liked - Yes 6. Wanted an ex bf/gf back - Yes 7. Wanted something you couldn’t have - Yes 8. Cried yourself to sleep? - Yes 9. Cried because you lost a pet - Yes 10. Wanted to disappear – Several times TEN PREFERENCES IN A PARTNER. 1. Smile or eyes - Both. I love when he smiles at me. But I adore how his eyes stares at me. 2. Light or dark hair - Dark and long hair :D 3. Hugs or kisses - can I have both hugs and kisses, please ? 4. Shorter or taller - Taller 5. Intelligence or attraction - Intelligence , and sense of Art 6. Romantic or spontaneous - Spontaneous 7. Funny or serious - Funny 8. Older or Younger - Older 9. Outgoing or quiet - Outgoing 10. Sweet or Bad Ass - Not too sweet, and not too badass either TEN HAVE YOU’S. 1. Ever performed in front of a large crowd - Yes 2. Ever done drugs - No 3. Ever smoked - Yes 4. Ever been lost - Yes 5. Ever been on a cheerleading team - No ! won't happen ! 6. Ever done something you shouldn’t - oops.. Yes ! 7. Ever been on a sports team - Yes 8. Ever been in a drama play/production - No 9. Ever owned a BMW, Mercedes Benz, Escalade, Hummer or Bentley? - No 10. Ever been in a rap video? - No TEN LASTS. 1. Last phone call you made - Aileen 2. Last person you hung out with - VM 3. Last person you kissed - i kissed ? forgot.. maybe him 4. Last time you worked - last work 5. Last person you tackled - nobody 6. Last person you IM’d - him 8. Last person(s) you went to the movies with - geeeez.... it has been years.. Aileen i guess. 9. Last thing you missed - I missed him ! so damn much. 10. Last thing you ate - chicken orange :D LAST PERSON TO. 1. Sleep beside you? - :D 2. See you cry? - hey you there, did you see me cry last time ? 3. You went out to dinner with? - VM 4. Shouted at you? - don’t know 5. You talked on the phone to? - Aileen 6. Text you? - Sandra 7. Made you laugh? - Kibu :D 8. Buy you something? - don't remember :( 9. Make you sad? - him 10. Make you happy? - him
1. Name - AGACD
f i n i s h :)
Mittwoch, 25. August 2010
so close, yet so far
setelah sekian lama tidak lagi menulis, kali ini tulisannya untuk kamu. Saya akan berusaha, memaparkan perasaan saya seadanya, tanpa menuliskan kata-kata yang termehek-mehek. Karena saya tahu, kamu tidak suka yang seperti itu..
Awal dari semuanya, saya ingin berterimakasih lebih dulu kepadamu. Terimakasih untuk ada nya kamu, terimakasih untuk menjadi diri kamu -- dengan segala kehebatan dan kekurangan mu, dan tentu saja terimakasih untuk rasa yang kamu punya untuk saya.
Kamu sering bertanya, meski lewat kelakar, sejak kapan saya menyimpan rasa untuk mu ? Sayangnya saya pun tidak tahu jawab pastinya. Tentu saja rasa itu hanya bermula dari desir kecil, yang kemudian di dalam saya, semakin bertumbuh dan bertambah besar dia. Saya tidak berniat untuk memeliharanya. Saya tidak punya maksud untuk membiarkannya tetap bercokol dalam hati saya. Namun saya tidak bisa apa-apa. Sudah saya coba, tidak menghiraukan rasa itu. Saya pikir, dengan begitu, dia akan mati sendiri. Seperti tanaman yang tidak disiram dan dipupuk, setelah kering, dia akan mati. Namun saya salah ! Rasa itu tetap terus mengakar dan mengokohkan dirinya dalam hati saya, meski tidak saya hiraukan. Rasa itu semakin nyata mengada. Sampai akhirnya saya menyerah, saya tidak bisa memungkiri keberadaannya lagi.
Tapi kalau kamu tanyakan, kapan itu ? Saya pun tidak punya jawabnya, Sayang. Yang saya tahu dengan pasti, hanyalah bahwa rasa itu sampai detik ini masih ada, sangat kuat, untuk kamu.
Kamu tidak perlu khawatir, kalau saya melukai diri saya sendiri, dengan rasa yang terlalu kuat itu. Jauh sebelum kamu khawatir, saya sudah memikirkan nya. Saya tahu, sedekat apa pun kita, akan ada satu dinding tebal yang membatasi. Dinding itu mungkin transparan, Sayang. Tidak semua bisa melihatnya. Tapi saya melihatnya, kamu juga. Kita dibatasi ! Kita tidak mungkin bisa bersama. Dan, kalau sampai nanti , dinding itu bertambah tebal, kalau batas diantara kita semakin diperketat, kalau kamu harus pergi, atau saya yang harus menjauh.. saya tahu, saya tidak akan tegar. Mungkin mata ini akan kembali basah. Mungkin hati ini akan kembali tersayat. Tapi tenanglah, Sayang. Saya akan kembali baik-baik lagi. Saya akan melepaskan mu, kalau memang itu yang terbaik.
Lewat tulisan ini, saya mau kamu tahu. Kamu tidak sendirian. Bukan kamu saja yang menanggung salahnya. Saya adalah separuh yang lain. Yang menanggung salahnya, atau bahkan saya adalah kesalahannya.
Maafkan saya, untuk terlahir dengan kulit yang lebih terang, dan mata yang lebih sipit daripada mu. Maafkan saya, untuk punya tatacara yang lain daripada mu saat bersujud di hadapanNya. Maafkan saya menyayangimu, dan menginginkanmu menyayangi saya.
PS : hei there,.. miss you already :*
Dienstag, 25. Mai 2010
rasa raksasa
ke hari-hari, dimana kamu belum hadir dalam kehidupan saya.
bukan Sayang,
bukan karena ada cacat mu
yang tak bisa saya terima
toh mata ini buta di depan mu
untuk saya kamu tidak bercacat.
ini hanya karena saya
yang mempunyai rasa terlalu raksasa
namun tubuh dan jiwa yang masih kerdil
rasa itu jadi kerap tak terkendali
liar melayang kesana kemari
dan tanpa disadari
menggoreskan cakar-cakar nya yang tajam
, entah siapa saja dia lukai
entah berapa orang harus sakit
tergores
rasa
milik saya.
ini hanya karena saya
yang hanya ingin menyayangimu
namun berakhir membebanimu
rasa yang raksasa ini
seperti bukan pada tempatnya
seperti tidak seharusnya
namun katakanlah
bagaimana saya mengecilkannya ?
karena semakin hari semakin meraksasa dia !
saya ingin kembali
ke hari-hari dimana kamu belum hadir dalam hidup saya
dimana rasa itu belum lahir
dan tidak akan meraksasa
tidak akan ada yang terbebani
tidak akan ada yang tergores cakarnya.
Sayang,
cuma kamu yang sanggup membinasakan rasa ini
saya tahu cuma kamu pahlawannya
tolong, bunuh rasa raksasa
yang mengakar dalam diri saya ini.
everything was allright, everything was OK, and then you came...
Mittwoch, 3. März 2010
dua puluh empat
dua puluh empat ,
untuk darah dan air
yang berperan lebih dari sekedar substantia
namun oase
dari situ cinta bermuara.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk sayap besar
sayap kecil
yang selalu mengiringi
dalam semua jarak - laju - margin - titik - ruang
yang setia mengada
meski tak pernah dianggap ada.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk denyut - degup bersautan
cerebellum - peripher berlanjutan
akal - rasa bersamaan.
terimakasih
untuk Sumber dari segala sumber
Daya dari segala daya
Pusat dari segala pusat
karena dua puluh empat tidak tinggal diam
dua puluh empat tidak berhenti,
maka biarkan saya
tetap berpercaya di dalam Mu
biarkan saya
tetap berlindung di dalam Mu
sambil menunggu
angka angka lain yang masih boleh datang.
Dienstag, 16. Februar 2010
kata 'kata-kata'

apa yang menyebabkan,kata-kata jadi begitu mudah diciptakan?
komunikasi. adalah salah satu hal paling penting ( setidaknya menurut saya ) dalam interaksi antara dua pihak ( atau lebih ).
tentu saja komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti menunjukkan ekspresi, mimik, gerakan-gerakan anggota tubuh, intonasi, volume suara, atau hal-hal nonverbal lainnya. namun yang paling umum, komunikasi dilakukan dengan bahasa lisan, kata-kata yang dapat saling dimengerti oleh kedua belah pihak tersebut.
dengan semakin bertambahnya usia saya, makin banyak jumlah orang yang sudah saya temui dan kenali, dan tentu saja yang kemudian terlibat berkomunikasi baik verbal , nonverbal, maupun paraverbal dengan saya. dari situ saya menilai, betapa komunikasi lisan, yang berupa kata-kata, jauh lebih dominan daripada saudara-saudaranya, si nonverbal dan paraverbal itu tadi. kata-kata bisa dengan mudahnya menguasai lawan bicara, atau juga sebaliknya - sangat menguntungkan lawan bicara dan mempermalukan si penutur kata. semakin banyak kejadian yang saya alami, semakin takjub saya memperhatikan derajat kata-kata yang kian hari kian meninggi. orang tampak lebih senang dan puas menerima kata-kata itu bulat seperti ujudnya saja, bukan makna nya, bukan sari nya. semua orang bisa berkedok kata-kata, karena tidak ada indikator yang mampu mengetahui ke-tidak-pas an hati dan mulut. seorang munafik menyusun kata-kata serapi mungkin, menjadikan kata-kata itu berkualitas tinggi dan menyebarkan sihir, membuat orang yang mendengar mempercayainya seorang manusia setengah malaikat. seorang pencinta menyusun kata-kata menjadi barisan puisi untuk dipersembahkan ke pujaan hati. dipilihnya dengan teliti, kata-kata yang harumnya semerbak mawar, dan rasanya semanis madu. lalu dituliskannya rentetan puisi itu pada suatu lembar jingga, dan pada sudut kanan bawah lembar itu, tak lupa dia sematkan lagi kata-kata yang mengisyaratkan cinta. hanya nama saja dia palsukan, karena surat cinta itu tak ditujukan ke hanya satu orang saja. seorang pendoa melagukan kata-kata. dia menasihati dengan kata-kata.dia meneguhkan dengan kata-kata.dia mengutuk dengan kata-kata.pagi-siang-sore-malam, bangun tidur-sebelum makan-saat mandi-sesudah makan-sebelum tidur, diucapkan kata-kata yang dia sendiri tak semuanya paham.
apa yang menyebabkan, kata-kata begitu mudah diciptakan ?
orang makan kata-kata. minum kata-kata. mencinta kata-kata. tidur kata-kata.
janji yang tidak pernah ditepati... kata-kata.
hutang yang tidak pernah dilunasi... kata-kata.
cinta yang tidak pernah diresapi... kata-kata.
kepercayaan yang tidak pernah dihayati... kata-kata.
mungkin suatu saat, kita juga akan buang-air-kata-kata ??
( tadi pagi di Bus, saya duduk bersebelahan dengan anak kecil laki-laki sekitar umur 5 tahun. awalnya saya tidak begitu memerhatikan apa yang dia lakukan. namun dari ekor mata saya, saya tahu bahwa dia sedang memegang kotak bekal nya. karena tertarik dan ingin tahu, apa yang dia makan, saya lalu menengok ke arahnya. kemudian saya menyadari, dia sedang memasukkan tomat ke dalam mulutnya, mengunyahnya pelan-pelan, dan menangis ! kemudian saya melepas earphone MP3 player saya, dan bertanya apa dia baik2 saja. anak itu kemudian menjawab, dia tidak bisa menghabiskan tomat nya, dia sebenarnya tidak menyukai tomat sama sekali. lalu saya menengok ke samping, lalu ke belakang, mencari2 apakah anak tadi di bawah pengawasan orang yang memaksanya untuk menghabiskan tomatnya. tapi saya tidak melihat siapa-siapa. lalu saya kembali bertanya, siapa yang menyuruhnya menghabiskan tomat itu, dan apa alasannya. si anak dengan masih berusaha mengunyah tomat itu, dan menelannya, dan suara tangisnya yang makin terdengar, kemudian menjawab saya. Ayah nya lah yang membekali nya roti dan tomat, tomat HARUS dihabiskan, karena kalau tidak begitu, nenek nya yang di surga tidak akan mencintai nya lagi.
bagaimana seorang ayah bisa memanipulasi cerita macam itu , hanya agar anaknya menghabiskan bekal tomat nya ?? bagaimana kata-kata seperti itu bisa diciptakan, dan sangat menjadi beban untuk anak sekecil itu ?? )
PS : oh well, just if you'd like to know.. I ate the rest of his tomatoes and gave that boy my biscuits ~~'
Donnerstag, 12. November 2009
belajar melepaskan
Adalah kenyataan yang seperti selalu sembunyi di tempat lain, sedangkan manusia hanya berkutat pada perandaian yang diciptakan imaji nya saja. Seperti saya, yang meskipun sudah hampir genap dua tahun, masih susah menerima kenyataan -- kepergianmu. Meskipun mata ini tidak lagi berair. Meskipun saya tidak lagi bangun di malam hari karena bermimpi tentang mu. Meskipun saya tidak lagi gila,setiap saat mengecek apakah messenger mu online atau tidak. Meskipun saya berusaha mencoba mengerti, sungguh mengerahkan semua tenaga untuk mencoba memahami, tapi kenyataannya saya tidak pernah bisa benar-benar mengerti. Kenyataannya adalah yang saya bisa hanya merelakan dan menerima kepergianmu.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, saya tidak tahu, di mana , bagaimana, dan siapakah kamu sekarang. Saya tidak tahu, apa kamu mendengar saat nama mu saya sebutkan di doa sebelum tidur saya. Saya tidak tahu, apa doa-doa itu dan semua kenangan punya kita yang masih saya simpan rapi, cukup membuatmu merasa lebih tenang, merasa lebih bahagia. Bahagia kah kamu di sana ? Tidak ada kah sedikitpun rindu menyeruak di dada mu ?
Apakah kamu, di suatu tempat nun jauh di sana, masih sempat mengamati kami di sini ?
Tahu kah kamu apa-apa saja yang terjadi sejak kamu berhenti mengada di tengah-tengah kami?
Teman-teman kuliah mu menanam sebuah pohon di kampus kalian, dan menamai pohon itu Christy.. diambil dari nama tengah mu. Saya mau kamu tahu, mereka kehilangan kamu ! Kehidupan beberapa dari mereka sempat terhenti sejenak, seakan ingin berontak pada realita di mana kamu tiba-tiba meraib. Mereka merindukan senyumanmu, tim kerja mu di laboratorium masih membutuhkan kerjasama dan suara mu yang riang.
Orangtua mu sempat mengasingkan diri. Mereka pergi jauh sekali dari rumah dulu kamu tinggal dan tumbuh besar. Mereka pergi untuk mengobati diri mereka sendiri. Mengobati diri dari luka yang tidak tampak dan tidak bisa disembuhkan dengan obat atau operasi. Mereka menghindari sudut, aroma, bebunyian atau apapun yang menoreh ingatan tentang mu. Itu dulu.. Namun tenanglah, kamu bisa berbangga akan mereka. Sekarang mereka sudah jauh lebih legawa. Mereka, mungkin seperti halnya saya, mencoba untuk menerima kenyataan.. tanpa bisa memahami nya.
Saya ? Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya melewati beberapa tahap dengan perasaan yang berbeda-beda. Awalnya saya marah, sangat-sangat marah. Saya menganggap mu picik dan berpikir sempit. Setahu saya, kamu adalah orang yang berpikiran optimis dan selalu memberi motivasi kepada saya. Keputusan terakhir mu itu adalah hal yang membuat saya merasa dikhianati. Keputusan mu untuk berbuat seolah kamu adalah Shinigami atau sesuatu lain yang bahkan lebih berkuasa. Keputusan mu untuk memutuskan rantai hidup mu sendiri dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya tidak akan pernah mengerti, apakah gengsi atau keputus-asa-an akan cinta, yang lebih membunuhmu saat itu. Kemarahaan saya mereda dengan muncul nya rasa bersalah dalam diri saya. Saya menyalahkan diri saya sendiri, karena menjadi seorang teman yang tidak becus. Saya bertanya-tanya, seandainya saja saya lebih sering menghubungi mu, apakah kamu akan menceritakan semua masalah mu ? Seandainya saat itu kamu bisa berbagi dengan saya, apakah itu akan meringankan beban mu ? Seandainya saya lebih perhatian, apa kamu masih akan mengada sampai sekarang ? Kemunculan rasa bersalah itu tidak sendirian. Saya juga menyalahkan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan dalam doa saya kutuk habis-habisan. Saya meninginkan dia tidak akan pernah lagi mendapatkan cinta. Dia sudah membuang kamu, dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya menginginkan dia tidak akan pernah akan bisa merasakan bagaimana dicintai oleh seorang anak. Marah - kecewa - kehilangan - rasa bersalah . Perasaan itu yang selalu mondar-mandir di dalam diri saya. Sampai akhirnya waktu mempertemukan saya dan papa kamu. Dia menunjukkan foto mu. Kamu tetap cantik seperti saat kamu masih hangat dan bernapas. Melihat mu di foto itu seperti membangunkan saya dari mimpi. Sumber dari segala marah, kecewa, kehilangan, dan rasa bersalah itu bukanlah kamu, namun diri saya sendiri. Saya yang terlalu egois dan tidak mau percaya bahwa kamu tidak ada lagi bersama saya di sini. Parasmu yang hanya tampak tertidur namun tenang, tidak menunjukkan duka, tidak menunjukkan sakit, membuat saya sadar bahwa airmata saya yang akan menghambat bahagiamu. Dari saat itu saya belajar merelakan, menerima.. meskipun tidak akan pernah saya mengerti atau saya setujui cara pikir mu menarik keputusan terakhir itu. Keputusan terakhir mu, yang membuat jarak kita bukan hanya terpisah benua, namun antara hidup dan mati.
* untuk seorang teman, seorang saudara, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di bulan Desember 2 tahun lalu. " hey Sist, I still miss you.. I hope my prayers can reach you. till we meet again, Sist ! "
** untuk semua yang membaca ini.. Suicide is not the solution of your problem !!
Sonntag, 1. November 2009
yang ultah hari ini
Hari ini Papa saya berulang tahun. Genap setengah abad usianya. Tidak, dia tidak mengundang teman-temannya untuk berpesta. Dia memilih tidur sampai jam 1 siang, makan mie ulang tahun di rumah saja dengan Mama saya, setelah itu menghabiskan sore di rumah orangtua nya ( oma opa saya ). Papa saya bukanlah anak emas dari oma opa saya, justru sebaliknya. Dari yang saya dengar, Papa saya sudah jadi anak yang bandel sejak kecil. Papa saya adalah anak yang paling sering terkena hukuman dari opa saya, tapi dia tidak cengeng seperti saudara nya yang lain. Papa saya pernah berurusan dengan petugas keamanan pasar saat dia masih duduk di bangku SD, karena menantang dan kemudian (mencoba) berkelahi dengan salah seorang pedagang yang selalu mengganggu dan mengejek oma saya. Menurut oma, Papa saya adalah anak nya yang paling 'lain'. Punya selera humor yang tinggi, punya banyak sekali teman, tapi masalah dia, tidak ada orang lain yang boleh tahu. Menurut oma juga, Papa dan Opa paling sering berselisih paham, itu karena sifat mereka berdua paling mirip. Sama-sama kepala batu kata oma. Namun dibalik kebandelannya, dibalik keras kepala dan sifat tertutup nya.. ternyata Papa saya juga lah, yang selalu sabar menjaga oma opa saya saat mereka sedang sakit. Papa saya selalu hapal makanan kesukaan oma opa saya. Papa saya tidak pernah malas membantu Opa saya mandi, menggunting kuku nya, membelikan bubur kesukaan oma saya pagi-pagi sekali dan mengantarkannya ke oma. Hal-hal kecil, yang lagi-lagi membukakan mata saya, bahwa Papa saya mencintai dan menghormati orang tua nya, lebih dari yang saya tahu.
Hari ini Papa saya berulang tahun. Saya tidak memberinya kado apapun. Saya bahkan tidak bisa berada di dekat nya dan mencium pipi nya sembari mengucapkan doa-doa lekat pada kupingnya. Namun tadi malam sebelum terlelap, sudah saya pohonkan kepada Nya, untuk Papa saya, umur yang panjang, badan yang sehat, jiwa yang matang dan bijak, akal yang jernih dan bersih, dekat dengan berkah selamat dan rejeki, jauh dari petaka, hidup yang dicukupkan dan dianugrahkan bahagia. Saya bisikkan juga pada Nya,ucapan terimakasih yang tidak akan cukup saya tegaskan dengan kata-kata, untuk kesempatan yang dihadiahkan kepada saya, menjadikan Papa saya sebagai Papa saya. Saya mensyukuri kenyataan, bahwa dalam tubuh saya mengalir darahnya, menunjukkan bahwa saya benar-benar bagian darinya. Saya mensyukuri memilikinya sebagai Papa. Seorang yang selalu berhasil membaca raut saya. Seorang yang bisa membaca pikiran saya, dan menetralisir pikiran-pikiran buruk saya. Seorang yang meninabobokan saya, menggendong saya berjam-jam sampai saya bisa tertidur saat dulu tangan saya pernah retak, mengajarkan saya memegang pensil, membaca, berhitung, membaca jam, menyebrang jalan, menyisir rambut, ahh.. tidak akan mampu saya sebutkan satu persatu. Seorang yang selalu bisa menerima saya, sebesar apapun kesalahan yang saya lakukan. Seorang yang selalu memaafkan dan tetap mencintai saya, tanpa pamrih, tanpa meminta kembali untuk dicintai sebesar itu juga.
Hal terakhir, yang saya mohon dari Nya tadi malam, adalah kesempatan untuk lagi-lagi tetap berdekatan hidup dengannya, mungkin sampai di sirkumstansi berikutnya, kalau memang kesempatan itu ada.
Hari ini Papa saya berulang tahun. Genap setengah abad usianya. Saya sangat ingin berada di dekatnya, menikmati mie ulang tahun dan ayam goreng bersamanya. Bertukar cerita.. melempar tawa.. mensyukuri adanya.
Always miss you Pop..
XOXO
Freitag, 23. Oktober 2009
jauh mu .
ruang biru
jam dinding menyatakan waktu
bunyi kulkas
wangi kopi dan kebul asap rokok mu.
kamu
rambut panjang mu yang terikat
kaos coklat
celana panjang warna hitam
sepatu converse hitam dengan satu bintang
satu koper super besar
dan rokok yang tanpa henti kau hisap.
aku
... atau bukan aku ?
duduk ... tak mengada
memunguti air mata yang tidak rela dijatuhkan.
maka selesai sudah satu babak lagi - sia sia .
i don't want you to leave. never want you to leave.
Samstag, 26. September 2009
boleh pergi

kalau ternyata selama ini, memang tujuan mu menjadikan saya teman, hanyalah agar kamu bisa kapan saja meminjam uang saya, (maafkan.. ) saya mengutuk perbuatan mu itu.
mungkin ada yang sedikit meleset dari perhitungan mu, orangtua saya memang cuma punya anak satu, saya. tapi bukan berarti saya bisa memiliki segala sesuatu nya secara berlebih. mungkin ada sesuatu yang lepas dari penglihatanmu,kenyataan bahwa saya juga harus mengurangi waktu tidur saya, membatasi waktu jalan-jalan saya, bahkan kadang mengurangi jatah belajar, untuk melakukan part time job.
jadi kalau kali ini, saya tidak bisa memenuhi apa yang kamu minta, karena saya sendiri sedang membutuhkan uang itu, dan kamu harus jadi senewen dan tidak mau berbicara kepada saya.. silakan diamkan saya, selama apapun kamu mau. saya lebih memilih lagi-lagi kehilangan satu teman, dibanding mempertahankan pertemanan yang palsu dan berorientasikan materi. kamu boleh marah, boleh benci, boleh mengatai saya, boleh tidak mau lagi berteman dengan saya. saya tidak peduli.
saya tidak mau punya teman palsu.
terimakasih untuk semuanya. terutama untuk semua tawa yang sudah kamu hadirkan dalam hidup saya. mungkin sudah saatnya kita mengambil jalan yang berbeda. sayonara.
Samstag, 19. September 2009
cause broken heart won't kill, if you don't let it happen
Dalam keadaan seperti apakah, seorang manusia digolongkan sebagai seseorang yang sedang mengalami patah hati ? Dan skala apakah yang mampu mengkondisikan seberapa parah patah hati itu ?
Kehilangan yang sangat besar dan begitu menghantam diri saya, sudah pernah saya alami dua kali. Pertama, adalah saat saya kehilangan Oma. Oma adalah seseorang yang merawat saya dari bayi hingga saya hampir dua tahun. Oma bagi saya adalah seseorang yang selalu lembut, selalu mempunyai dongeng sebelum tidur, selalu wangi, selalu tertawa, selalu ramah, selalu memasak makanan enak, selalu cantik, dan yang paling indah adalah kenyataan bahwa dia selalu mengistimewakan saya. Oma saya harus pergi untuk selamanya saat saya kelas 3 SMA. Tidak berapa lama setelah saya menulis ujian akhir SMA. Saya rasa, saat itulah saya merasakan patah hati yang begitu mendalam. Saya tetap hidup seperti orang hidup. Bernafas, makan, tidur, berjalan, namun segala sesuatunya seperti tanpa esensi. Saya tidak bisa mempercayai seseorang yang sangat saya cintai itu tiba-tiba harus tertidur tanpa pernah bangun kembali. Tidak akan ada balasan saat saya menyapa, tidak akan ada lagi belaian di kepala saya saat saya mencium pipinya, matanya tidak akan terbuka lagi untuk melihat saya, dan suaranya tidak akan pernah saya dengar lagi. Saya terpuruk, saya merasa ditinggalkan, saya merasa kecil dan tidak berguna.
Kali kedua adalah saat seorang yang juga sangat saya cinta, seorang laki-laki muda yang saat itu bisa disebut teman spesial saya, tiba-tiba berhenti berbicara kepada saya. Sepertinya saya tidak pernah ada dalam hidupnya. Dia benar-benar komplit tidak mengacuhkan keberadaan saya lagi. Beberapa lama setelah aksi diam nya, tanpa menjelaskan satu pip pun kepada saya, saya mendengar bahwa dia mempunyai teman spesial baru. Dia punya cinta yang baru untuk seseorang yang baru. Saat itu saya benar-benar berpikir saya habis. Saya pikir saya akan pelan-pelan hilang tertelan perasaan saya sendiri yang serba terlalu. Terlalu sedih, terlalu kecewa, terlalu cemburu, terlalu marah, terlalu menyalahkan diri sendiri, terlalu nekad !
Kenyataannya adalah, saya masih ada sampai detik ini. Dua kali patah hati yang begitu dalam dan saya pikir akan memangsa jiwa saya sendiri lambat laun, tidaklah menjadi benar. Waktu membawa saya menjadi pulih dan kuat kembali. Bahkan mungkin jadi lebih kuat dari sebelumnya. Pikiran bahwa saya tidak akan mampu melewati semuanya itu, juga bukanlah suatu yang menjadi nyata. Awalnya memang berat, awalnya memang semua menjadi lebih gelap dan lebih dingin. Namun suatu pagi saya menemukan mata saya tidak lagi basah dan bengkak. Suatu hari saya menyadari bahwa saya mampu membicarakan kepergian Oma saya, atau keputusan mantan teman spesial saya itu, tanpa ada rasa sakit di dada. Bahkan sekarang ini, kalau saya sedang menuliskan semuanya, saya hanya merasa sedikit getir, namun saya tidak lagi bersedih hati, saya tidak harus lagi meneteskan airmata. Saya bangga dan bahagia untuk segala liku yang boleh saya lewati, lebih lagi kalau saya berhasil melewatinya dengan baik dan mampu meneruskan perjalanan saya.
Apakah saat ini saya kembali mengalami patah hati itu ? Apakah patah hatinya parah, bahkan lebih parah dari dua sebelumnya ? Saya tidak tahu ..
Saya tahu saya akan mengalami 'kehilangan' sekali lagi. Dan kali ini, beda seperti dua sebelumnya. Saya yang akan menghilang. Saya yang akan menutup semua celah, agar saya dan dia tidak mungkin lagi saling bertemu. Bukan karena saya tidak meninginkannya lagi. Justru sebaliknya, semakin hari saya semakin kecanduan akan dirinya. Bukan karena dia melakukan suatu kesalahan dan saya tidak bisa memaafkannya, justru sebaliknya keputusan saya lah yang mungkin tidak termaafkan. Bukan karena rasa saya untuknya berubah, justru karena saya tidak berubah sama sekali, tidak jiwa, tidak raga, untuk itu lah saya harus pergi. Untuk apa semuanya ini saya lanjutkan, kalau saya 100% pasti, bahwa tidak ada masa depan untuk satu hal ini ?
Saya yang akan pergi, saya yang akan menghilang, tapi saya juga yang akan kehilangan dia setengah mati.
Belum ada yang tahu, apa saya akan mengalami patah hati yang parah ? Dan apakah akan lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Toh saya tidak akan mengukurnya. Buat saya, semuanya itu sama. Menyedihkan !
Namun dengan berjalannya waktu, saya percaya luka akan kembali tertutup. Saya percaya segala sesuatu yang awalnya mustahil untuk dijalani, perlahan akan menjadi suatu kebiasaan. Saya akan terbiasa hidup tanpanya. Saya akan terbiasa tidak lagi mendengar suaranya. Saya akan berhenti merindukannya dan memanggil namanya dalam hati. Saya tahu, semuanya akan kembali baik-baik saja.. separah apapun hati ini pernah atau akan patah.
PS : dear XO, countdown really counts now.. I'll make sure I'll completely disappear. As if.. I were never exist.
Dienstag, 15. September 2009
little confession
lalu saya hapus lagi
ngga ada yang pas !
saya tidak kenal diri saya lagi
kalau orang mau bilang saya lebih dungu dari keledai
monggo, toh memang saya dungu
mengulang kesalahan yang sama dua kali.
kalau orang bilang saya buta dan tuli
monggo juga, saya sengaja mematikan indra saya.
saat ini saya hanya ingin mencoba jujur kepada diri saya sendiri
bukan pada segala teori, rumus, atau tetek bengek yang mengekang
saya hanya ingin tidak munafik kepada diri saya sendiri.
jadi di sini lah saya
dengan singkat padat jelas
hanya ingin memberitahu mu
i miss you
sangat bahkan !
Freitag, 4. September 2009
untuk diingat ( dan dilaksanakan )
- saya tidak akan mempermasalahkan waktu yang harus saya gunakan untuk memotong-motong wortel, ayam, kentang, bayam, atau apapun untuk mengolah makanan yang enak dan bergizi untuk anak saya. Bukan makanan instan kalengan !!
- saya tidak akan mempermasalahkan waktu yang harus saya gunakan untuk mencuci, menjemur, dan menyetrika setumpuk pakaiannya ( berikut sprei dan selimutnya ) , selama dia bisa selalu mengenakan pakaian yang bersih, hangat, kering, tidak lecek dan tidak bau !!
- saya tidak akan mengomel di depannya betapa lengan saya pegal, karena dia begitu gendut nya, namun selalu minta digendong, dan tidak akan berhenti menangis jika tidak digendong. saya tidak menjanjikan menggendongnya 24 jam, tapi saya berjanji tidak akan mengomel di depannya betapa dia berat dan menyusahkan !!
- saya akan lebih memilih mengirit untuk tidak membeli sepatu atau baju atau tas baru untuk saya, atau tidak mengacuhkan peralatan dapur terbaru yang ibu-ibu tetangga perbincangkan, tapi bisa membelikannya baby oil atau baby lotion yang bagus, yang bisa membuat kulitnya tetap halus dan mengurangi kesensitifannya.
- kalau semuanya itu masih tidak cukup. kalau semuanya itu masih tidak membuatnya terlengkapi, saya mau dia tahu, ada satu yang bisa dia pegang selama hidup saya, yaitu bahwa saya mencintainya !!
( catatan kecil setelah menghabiskan waktu beberapa hari dengan seorang Ibu muda dan anak bayinya. beberapa hari yang terasa sangat panjang. beberapa hari yang saya habiskan dengan menghela napas panjang, menahan emosi, dan menggelengkan kepala, dan diam-diam mengikrarkan janji dalam hati " saya tidak boleh jadi seperti Ibu itu, saya harus lebih baik ! saya harus lebih waras ! " )
Montag, 31. August 2009
disiplin untuk setia

Dear Padre,
lagi-lagi ini surat dari saya. Tolong jangan enggan meneruskan membacanya, saya berjanji kali ini tidak akan ada protes atau keluhan.
Sebenarnya saya sering bertanya-tanya, buat apa menuliskan surat seperti ini, atau mengucapkan kata-kata lewat doa, apabila Kau melihat semuanya lebih jelas - apabila Kau mengetahui segala sesuatunya lebih dari yang lain. Saya percaya Kau bahkan lebih mengerti dari saya sendiri, apa yang hati saya inginkan. Tapi biarlah saja ini terjadi, karena ini adalah bentuk dari suatu komunikasi, ya.. ini yang membuat saya merasa aman dan percaya Kau selalu serta. Biarkanlah saya tetap menuliskan surat-surat kepadaMu, mengucapkan kuncup-kuncup doa kepadaMu, dan melantunkan pujian untukMu - biar saya tetap bisa merasakan dekat padaMu, biar saya tetap merasakan betapa melimpahnya kasihMu melalui doa yang didengarkan dan permohonan yang dikabulkan.
Seperti yang saya janjikan, kali ini tidak akan ada protes.. tidak ada keluhan.. . Saya hanya ingin mengucap syukur untuk kesabaranMu selama ini, dan memohonMu untuk tetap bersabar sampai nanti. Saya sadar, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk saya menyadari bahwa beban yang terasa begitu berat saya tanggung, sebenarnya hanyalah sepertiga nya saja. Engkau yang menanggung duapertiga nya, Engkau yang selalu sudah matang-matang memperhitungkan semuanya yang bisa jadi kapasitas saya. Saya percaya, bahwa pencobaan yang mungkin Kau turunkan untuk saya, adalah pelajaran yang melatih saya untuk tumbuh menjadi lebih besar dan lebih dekat lagi di dalam Mu. Saya percaya, bahwa Kau tidak memilihkan pencobaan untuk saya yang terlalu sulit atau terlalu berat untuk saya tanggung. Kau selalu ada, Kau selalu rela menyodorkan kedua tanganMu untuk membantu saya mengangkat bebannya. Masalahnya adalah, saya seringkali tidak lagi mengingat hal itu saat saya terjebak pada situasi yang saya anggap sebagai jalan buntu. Saat saya merasa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berhasil, namun kegagalan lah yang saya dapatkan, saya mulai tidak setia padaMu, saya ngedumel, saya mempertanyakan keberadaan dan kebesaran hatiMu. Saat saya merasa sudah memberikan yang terbaik dari diri saya, namun balasan buruk adalah apa yang saya terima, saya mulai memalingkan diri dariMu, saya merasa dibohongi, dan meragukan cinta sejatiMu. Saat masalah demi masalah datang bergantian, saya sering melupakan bahwa saya hanya bisa menyusun rencana, namun rencana dan kehendakMu lah yang baiknya terjadi.
Inilah inti surat saya kali ini. Saya mohon tetaplah sudi bersabar menghadapi saya yang dungu tapi keras kepala ini. Mohon tetap berkahi saya kedisiplinan setia berjalan di dalamMu. Agar mata ini tak beralih dariMu satu detik pun, saat langit cerah ataupun saat badai menerpa. Mohon tetap ingatkan saya untuk tidak gentar menghadapi masalah, karena tidak ada satu masalahpun yang tidak turut Kau tanggung. Tetaplah bersabar.. , tetaplah pelihara saya.. karena hanya dengan bersandar padaMu lah, saya berani tetap melangkah seberat apapun bebannya, segelap apapun jalannya.
Terimakasih untuk sudah meluangkan waktu dan membaca sampai kalimat saya yang terakhir. Terimakasih untuk penyertaan sepanjang hari ini.
dengan segenap rasa,
hambaMu yang masih harus banyak belajar.
Mittwoch, 26. August 2009
berteman, itu memilih ?
Dalam setahun terakhir ini, bisa dibilang, dia lah teman terdekat saya di München. Bukan hanya karena faktor tempat tinggal yang dekat ( kita tinggal di apartemen yang sama, dia lantai 1, saya lantai 2 ), tapi juga faktor hati dan rasa. Ada beberapa persamaan, yang mungkin mempererat pertemanan dia dan saya. Dia pernah -merasa- ditinggalkan oleh sahabat karibnya, saya juga. Dia -merasa- sudah berusaha untuk menempatkan diri sebaik mungkin, supaya bisa tetap bertahan mendapatkan tempat di hati sahabat karibnya, saya juga. Dia -merasa- serapi mungkin sudah memoles semua buruknya, menjaga agar persahabatannya langgeng, saya juga. Dia akhirnya -merasa- bahwa semua yang dia usahakan hanya membawa nihil, dan sedikit demi sedikit mengendorkan kepercayaannya terhadap persahabatan itu lalu berusaha untuk tetap jalan melihat ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang, saya juga.
Mungkin karena adanya kemiripan pengalaman , dia dan saya bisa jadi lebih mengerti satu sama lain. Kami sama-sama tahu, seberapa sakitnya ditinggal oleh sahabat karib. Kami sama-sama tahu, betapa kami takut untuk sekali lagi mempercayai dan menganggap seseorang itu sahabat karib.
Saya percaya tidak ada yang terjadi hanya karena kebetulan. Saya percaya, kalaupun ada suatu kebetulan itu, itupun sebenarnya sudah direncanakan. Saya percaya, dipertemukan atau didekatkannya dia dan saya sejak sekitar tahun lalu , bukanlah suatu kebetulan. Justru dari ketidaksempurnaannya dan saya, kami bisa saling melengkapi. Justru karena ada luka dan trauma yang kami simpan dalam-dalam, kami bisa saling menghargai dan menjaga untuk tidak saling melukai.
Teman / Pertemanan .. kedua kata itu selalu berhasil membuat saya merenung lama. Mengingat-ingat orang lalu lalang dalam kehidupan saya. Mampir, tinggal, pergi. Kenalan, berhubungan, bersahabat, pertengkaran, perpecahan, perpisahan. Sebagai seseorang yang tinggal jauh dari orangtua dan saudara, saya tahu benar seberapa besar arti teman. Saya bukan orang yang gampang berteman dengan siapa saja, sayangnya bukan. Saya juga bukan orang dengan hati yang besar, yang mau membuka telinga untuk siapa saja yang butuh didengarkan, sayangnya bukan. Tapi saya tahu benar, apa yang bisa saya berikan, akan saya berikan untuk teman saya - untuk sahabat saya. Suatu emosionalitas yang tinggi inilah, yang justru selalu membenturkan saya pada kenyataan, bahwa teman atau pertemanan pun tidak abadi. Sama seperti segala sesuatu lainnya, pertemanan pun sepertinya punya takaran yang bisa berubah atau bahkan menjadi habis !
Saya semakin menjadi tidak yakin, mana yang lebih baik, berjalan sendiri dan sepi, tapi tidak mengalami sakit karena ditinggal atau dikhianati, atau menjalin pertemanan dengan risiko ditinggalkan dan lagi-lagi merasa sakit dan kecewa.
Saya berharap suatu waktu nanti saya bisa menilai hal-hal dengan lebih jelas dan menemukan jawaban atas keragu-raguan saya. Saya berharap saya bisa menjadi teman yang lebih baik , yang bisa lebih memahami keinginan orang lain. Dan saya juga berharap, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya tidak akan lagi terluka dalam, atas gores yang mungkin ditimbulkan oleh seorang teman.
Seberapa pantaskah, persahabatan itu diperjuangkan, seandainya seorang sahabat itu, pernah pergi meninggalkanmu dan tidak lagi menganggapmu ada ? Dan apakah, seorang itu masih layak dipanggil sahabat ?