Samstag, 20. Oktober 2012

Jangan labeli saya, dengan label yang tidak tepat !

Pagi tadi seorang teman menceritakan kehidupan di tempat kerjanya yang baru. Belum lama ini dia kembali ditugaskan di suatu daerah, di luar pulau Jawa. Pesan-pesan singkat yang dia tulis, tersaji dalam hitungan sepersekian detik di layar mobile phone saya. Padahal jarak fisik saya dan dia berbeda ratus ribu kilometer. Dia bercerita, bahwa di daerah, di situ saat ini dia bekerja, dia seringkali dianggap bukan warga pribumi, tapi keturunan chinese. Dan anggapan itu, seringkali menempatkannya di posisi yang kurang menguntungkan. Misalnya saja, saat dia berkunjung ke suatu warung, hanya dengan tujuan tidak lain tidak bukan, membasahi kerongkong dan mengisi perut nya. Pemilik warung itu tiba-tiba menyatakan warung nya tutup, padahal jelas sekali dagangannya masih ada dan belum waktunya tutup. Seorang teman saya ini adalah asli orang Jawa. Sayangnya, penampilan nya memang kurang mendukung untuk dianggap sebagai orang Jawa di mata orang lain. Dibandingkan dengan orang Jawa pada umumnya, kulitnya lebih terang. Matanya juga tidak selebar orang Jawa kebanyakan. Teman saya lalu juga berkata, tidak jarang tatapan aneh harus dia terima dari warga asli daerah itu. Setelah tatapan yang tidak bersahabat itu dia terima, tentu saja ada bisikan-bisikan yang harus dia dengar. Apalagi kalau bukan kata " cina " ...

Saya terus terang tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. Bukan karena saya tidak peduli dengan nasib teman saya. Justru karena saya tahu persis apa yang dia rasakan.  Saya tahu bagaimana rasanya ditatap aneh lebih dari sepasang dua pasang mata. Saya tahu bagaimana rasanya mendengar bisikan bisikan julukan cina cino chinese. Umur saya sekarang dua puluh enam tahun. Dan dalam dua puluh enam tahun ini, saya tidak menjadi biasa dengan tatapan aneh itu. Julukan julukan itu tidak menjadi nyaman di telinga saya. Intinya, ya.. secuil dari saya tetap masih saja terluka, bila ditatap aneh seperti alien, atau bila dipanggil cina cino chinese.

Tanpa saya bisa memilih. Tanpa ada satu tangan pun saya acungkan untuk bisa mengatur. Tanpa sejentik kuasa .. saya terlahir di Jogjakarta. Salah satu profinsi yang ada di Indonesia. Sejak detik saya lahir, bahasa yang saya dengar di telinga saya adalah bahasa jawa campur indonesia. Lagu-lagu yang saya pertama pelajari adalah satu-satu aku sayang ibu, tentu saja dalam bahasa indonesia. Kemudian sekolah saya mulai dari TK - SMA juga di Indonesia. Saya berbicara dengan bahasa jawa campur indonesia dengan teman-teman saya. Makanan saya bumbu Indonesia. Angin dan air yang saya konsumsi juga tak beda dengan warga Indonesia lainnya. Apa yang membuat saya seenaknya dilabeli cina ?? Kenapa saya harus jadi cina, kalau ke cina pun saya belum pernah, dan bahkan tidak ingin ! Kenapa saya dianggap cina kalau bicara bahasa cina pun saya tidak bisa. Kalaupun leluhur saya berasal dari cina, apakah itu kemauan saya ? Apa dari awalnya saya disodori formulir dengan jawaban yang bisa saya pilih sendiri untuk menyatakan keinginan saya berasal dari bangsa mana ?

Saat ini saya sedang menjalani kuliah di negara Jerman. Orang-orang Jerman tentu saja kesulitan untuk mengetahui dari wajah saja, dari manakah asal saya. Tidak jarang mereka menyapa saya dengan bahasa cina. Saya selalu menjawab nya dengan bahasa jerman. Saya bukan orang cina, saya tidak mengerti bahasa cina, saya orang Indonesia ! Dan jawaban itu, keluar dari hati saya. Karena saya memang lebih bangga sebagai orang Indonesia. Karena saya memang lebih berbesar hati, menjadi seorang Indonesia.

Saya tidak tahu sampai kapan hal ini masih akan tetap berlanjut. Pengelompok-pengelompokan terhadap ras suku agama di Indonesia. Mungkin juga tidak akan pernah berhenti, akan selalu seperti ini. Saya tidak meminta keajaiban. Saya hanya memimpikan pengertian. Tolong mengertilah, bahwa saya terlahir dengan warna kulit, lebar mata, dan jenis rambut yang seperti ini, bukan pilihan saya. Tapi saya memilih untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Saya memilih untuk mencintai negara Indonesia. Tolong mengertilah apa yang bisa dan tidak bisa saya pilih atau tentukan. Tolong hentikan tatapan-tatapan aneh itu, karena saya bukan alien atau musuh. Tolong hentikan pikiran-pikiran yang seketika merayap di benak sambil menjuluki saya cina cino chinese, karena saya juga Indonesia, hanya saja dengan penampilan yang berbeda, dan saya tidak punya kuasa atas hal itu.

jikalau satu dari kalian, mau melabeli saya dengan suku, tidak ada suku lain yang saya kenal dan agungkan, selain seorang Jawa.

PS : tulisan ini hanya melarungkan sebuah mimpi . yang entah akan kemana . bukan bermaksud untuk menyinggung atau menjelekkan pihak mana pun. sama sekali tidak ada tujuan ke sana.


Sonntag, 30. September 2012

ausnahmsweise

empat kelopak daun semanggi, pernah kupohonkan untuk mu.
itu dulu. saat dongeng mu adalah pengantar tiap tidur ku. saat tulis mu adalah sejuk embun pagi ku.
sekarang ?
aku bahkan tidak lagi tahu di mana kamu pijakkan berdiri mu.
kamu bukan lagi yang nomor wahid yang kucari sebagai tempat berteduh. sekarang aku punya andalan ku sendiri, saat hari terlalu terik, ataupun hujan terlalu deras , ada tempat lain yang kutuju.
aku bukan lagi bintang utara mu yang berkerlip mengingatkan arah pulang, saat kamu tersesat. dan aku yakin ! sekarang, pasti kamu punya jutaan bintang utara membimbing mu.
waktu berlalu . hal berubah . kamu . aku . ki-ta . lalu dan kini .
namun hei ,
seandainya kamu mampir ke mari , dan membaca coretan ini. tidak ada orang lain yang akan lebih cepat mengenali selain kamu sendiri, ini untuk kamu .
aku tulis lagi, agar kamu lebih mengerti , ini buat kamu , yang cuma satu.
jadi ..
empat kelopak daun semanggi, pernah kupohonkan untuk mu .. masih tetap kupohonkan untuk mu .
kamu cuma satu .
entah siapa kamu sekarang . entah siapa aku sekarang .
selamat menerima kelopak yang keempat.

aku .

Dienstag, 4. Oktober 2011

membunuh J !

aku di sini
kamu di sana
j a r a k , dengan setia menjadi penengah
laiknya orang pongah
selalu minta diikut-ikutkan
diturutcampurkan
mungkin merasa dirinya anak semata wayang
bapa biyung harus tertuju mata kepadanya.

tapi aku benci dia
tanpa embel-embel
tanpa harus ada jabar alasan sebab asal muasal
aku hanya muak
karena dia selalu menengahi
antara aku dan kamu
karena aku jadi tak bisa langsung di sebelah mu
karena aku merasa dia lebih dekat dengan mu
( meskipun dia juga lebih dekat dengan ku
- dan aku tak mau ! )
dasar pongah
tak tahu kalau tak dimaui.

tapi kamu bilang sabar
karena dari j a r a k kita belajar
sisipkan rindu di sela-sela nya
kokohkan setia di kerangkanya
dan kamu juga bilang
rasa yang ditempa
akan lebih baik matangnya
kamu membela nya
si pongah itu
kamu percaya dia akan meraib dari tengah-tengah
aku hanya harus bersabar.

malam ini
dengan berkendara nokturno
aku berniat menghabisi saja riwayat si j a r a k.
dan kalau besok embun pertama
menetes di atap rumah mu
ketahuilah
akan ada bibir ku mengecup kening mu
tanpa ada lagi penengah kita
si makhluk pongah itu .



( untuk kamu, malam ini rindu nya sudah kelewatan. jadi maaf, biarkan tulisan ku yang kacau meracau :) . Do your work, Don't be Stupid. I am waiting !! :* :* )

Freitag, 10. Juni 2011

ke-tiga

dia
SMS :

sedang apakah kamu wahai lelaki ? sedang dimanakah ada mu ? aku tahu tempat terbaik mu adalah di sini. bersama ku. seharusnya. namun di mana pun berdiri mu saat ini. kupohonkan untuk mu. langit yang terang bersinar. agar lapang jalan mu tak perlu kau tersesat di satu simpang yang melintang. aku harapkan keberuntungan memilih untuk lekat dengan mu dan segala penyakit dan kebusukan menjauh dari diri mu. dan saat semua kerja mu sudah terselesaikan. saat gelap mulai menyapa dan kau mulai merasa lelah. datanglah kepada ku, wahai lelaki. satu-satu nya lelaki yang akan kucinta selama masih nafas ku bersarang. aku akan menyambutmu dengan pelukan terbuka. dengan harum tubuhku akan kubuai kau hingga terlelap membuang segala penat. dengan lembut belaiku akan kukirim kau ke tempat semua luka tak terlihat tersembuhkan. lelaki.. , jangan buat ku terlalu lama menunggu.


lelaki
SMS :

seandainya bisa. kamu tahu, akan kuputar waktu untuk mengulang segalanya. yang akan kupilih adalah kamu, dan bukan dia. entah ramuan apa sudah membutakanku di masa lalu hingga aku memilihnya. entah jampi-jampian macam apa sudah membuatku sekhilaf itu untuk mengikat janji suci sehidup semati dengannya. cih ! bukan untuk dia. namun untuk kamu, aku rela melepaskan nyawa ku. sayang, kamu tahu saat ini aku sedang di mana. percayalah aku muak berada di sini. dan yakinlah, meski tubuh ini tidak bersama mu, namun pikiran ini selalu menuju pada mu. hanya wangi mu semerbak di cium ku. hanya gelak manja mu ngiang di dengar ku. dan hanya bersama dengan mu lah yang kuingini saat ini. sayang, tidak akan kubiarkan kamu menunggu lebih lama lagi. tunggu !


wanita
benak :

kesalahan apa yang begitu fatal yang sudah kuperbuat ? yang membuat mu berpaling. yang membuat mu menyatakan diri mu sendiri sebagai buta dan khilaf , karena pernah mencintaiku. bukan kah itu dulu memang cinta ? seharusnya kamu adalah orang yang paling tahu. tidak pernah ada ramuan. tidak pernah ada muslihat. apa yang sekarang harus ku lakukan untuk mengingatkan mu kembali pada rasa mu yang dulu ? tubuhku memang bertambah tua. tidak ada yang bisa kubanggakan untuk ditandingkan dengan nya. nya, kepada nya kau kini mengemis cinta. namun rasa ku untuk mu masih lah sama. belum keriput seperti kulitku. belum menipis seperti rambutku. kamu lah imam ku. yang akan ku ikuti kemana pun langkahmu pergi. dalam gelap dalam terang. dalam tangis dalam tawa. dengan mu lah aku sanggupi menanggung semuanya bersama. katakan lah pada ku, wahai imam ku. apa yang harus kulakukan ? kalau rumah ini kini sekedar bangunan tak bermakna bagimu. kalau pulang adalah kata yang kamu benci setengah mati. kalau kebersamaan dengan ku adalah hal yang paling ingin kau akhiri.
seberapa yakinkah diri mu, kalau dia mencintai mu , seperti aku mencintai mu ? apakah kilauan paras nya sebanding dengan tulus hati nya ? apakah cukup dia bernyali menjemput mati, menahan sakit , untuk melahirkan anakanak mu ? benarkah yang dicintainya adalah utuh diri mu , bukan hanya kokoh dan sehat mu ?
aku. aku yang ada di sini, dari semula hingga saat ini. dan aku akan masih tetap berteduh di sini, di bawah janji suci pernah sekali kita ikrarkan bersama.
aku. aku yang akan tetap ada di sini. jadi jika suatu saat. kamu ingin pulang. jika suatu saat. kamu merindukan rumah mu. kamu tidak akan kesepian. kamu tidak akan sendirian. karena aku menunggu. sampai kapan pun kamu siap. aku menunggu.



dengan tulisan ini, saya hanya ingin melaknatkan semua bentuk perselingkuhan. baik dalam suatu pernikahan. atau tunangan. atau pacaran. it's coward ! and it's not fair !!
tulisan ini cuma gambaran. dan tidak berarti saya memojokkan salah satu gender. bukan berarti saya beranggapan pihak yang ditinggalkan selalu wanita, dan yang meninggalkan selalu pria. hal ini TENTU saja dapat terjadi sebaliknya.
for all curious readers :P ,
it's not about me. i have a great boyfriend and i believe in him.


Samstag, 14. Mai 2011

cause it's you

catatan kecil ini, kembali ditujukan untuk "nya" ..
yang pastinya tahu.. untuk dirinyalah tulisan ini dilahirkan.

saya merasa semakin disadarkan, bahwa mencintai seseorang tidak lah harus muluk-muluk dan penuh persyaratan. mencintai seseorang bukan lah kenapa dan karena. mencintai seseorang,.. adalah walaupun.

terimakasih , kamu. untuk menghadirkan begitu banyak warna-warni baru dalam hidup saya. untuk menjadi teman bermimpi dan berangan-angan yang sangat ideal. untuk berani melawan dirimu sendiri, merubah hal-hal dari dalam mu, hanya untuk membuat saya lebih bahagia. untuk kesediaan membuka telinga, kapan saja saya butuh tempat bercerita. untuk semua waktu, materi, dan hal-hal dalam bentuk lain yang kamu kesampingkan, hanya untuk mempertahankan kestabilan hubungan dengan jarak ratusribuan mil ini.

am glad that i found you :*
über -sukida !! , XOXO


PS : am i now a sinner, just because i love you truly madly deeply ?


Sonntag, 8. Mai 2011

R , is what you act .

hari ini secara kebetulan, saya bertemu dengan seorang kenalan lama. waktu itu, dia dan saya sering sekali bertemu dan berdiskusi. waktu itu, dia dan saya sering sekali bernyanyi, bergandengtangan dan melonjak-lonjak bersama. waktu itu. waktu saya masih pergi ke tempat itu.

dan hari ini, saat saya dan dia diijinkan berpapasan di tengah jalan, dia bahkan tidak membalas uluran tangan saya, saat saya berusaha menjabat nya. dia hanya bertanya datar. pertanyaan yang sudah saya ramalkan akan keluar dari mulutnya. kenapa saya tidak datang lagi ke tempat itu ? saya tersenyum. simpul. lalu kembali melontarkan tanya " apa kamu akan mau menjabat tangan saya lagi, kalau saya kembali ? " dia tidak menjawab. saya menginginkan suatu reaksi dari wajahnya. tapi nihil. saya tidak mendapatkan apapun. saya tidak tahu apa sekarang dia membenci saya, jijik terhadap saya, kaget bertemu dengan saya lagi, atau memang tidak lagi ambil pusing apapun mengenai saya.

sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang hal ini di blog. tapi rasa ewuh selalu menahan keinginan saya itu. namun ijinkanlah saat ini saya menuliskannya. bukan untuk dibaca siapa. bukan untuk membuat apa. hanya untuk saya sendiri.

tempat yang dari tadi hanya saya sebut dengan kata ganti 'itu' , adalah suatu tempat ibadah. tentu saja tempat ibadah sesuai dengan agama yang saya peluk. tempat yang dulu setiap minggu minimal satu kali saya kunjungi. untuk berdoa. untuk memohon. untuk bersyukur. untuk berkeluhkesah. untuk memuji. dan.. untuk bersosialisasi horizontal kepada sesama saya yang juga berkunjung. pada awalnya, saya sudah merasakan, ada hal-hal yang membuat saya kurang nyaman di situ. namun saya berusaha menekannya untuk keluar dari ego saya. saya berusaha menetralkannya dengan pikiran bahwa hal itu karena saya masih baru di tempat itu. saya pikir, lama-kelamaan, saya akan makin bisa beradaptasi. minggu pertama, minggu kedua.. hingga tahun kedua, saya tetap berjemaat di situ. sampai suatu saat, saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri ' kamu harus keluar - lepas dari semuanya ini ! ' .

apa yang sebenarnya terjadi ? pergejolakan apa yang saya dapati ? saya mendapatkan teman-teman yang super care dan super fun ! tidak ada yang salah dengan hal itu. namun beberapa prinsip. beberapa pola pikir. dan beberapa kepercayaan yang ada dalam kepala mereka, tidak bisa saya 'iya' kan.

saya memang memeluk satu agama. bukan dua. bukan tiga. dan saya hanya pergi ke satu tempat ibadah. bukan beranekawarna. tapi bukan dengan begitu saya menganggap agama yang lain tidak ada. bukan dengan begitu saya menganggap tuhan saya paling benar dan paling nyata. bukan dengan begitu saya menganggap hanya agama saya yang bisa menyelamatkan umatnya, sementara umat lain akan tak terselamatkan.

saat saya berdoa. yang saya butuhkan bukan medium atau pemirsa. saya butuh hati saya, saya butuh konsentrasi saya untuk bisa berdoa dengan jujur dan tulus. menurut saya, mendoakan orang dengan keras-keras dan diperdengarkan di hadapan orang banyak, adalah seperti mencari pujian untuk diri sendiri.

hari ini, saat ini.. beberapa tahun setelah saya berhenti mengunjungi tempat itu. mereka berpikir bahwa dengan meninggalkan mereka, saya menjadi mahluk tak ber tuhan. namun benarkah begitu ?
saya meninggalkan tempat itu, bukan karena saya berhenti percaya kepada Nya. saya berhenti mengunjungi tempat itu, dan berhenti mengikuti upacara-upacara nya, karena saya percaya Dia ada. dan yang saya maksud dengan Dia ada, adalah bahwa Dia benar-benar ada. di sini, sekarang, di mana-mana, dan kapan saja. saya tidak perlu berteriak keras-keras memanggilNya. karena Dia mendengar semua bisikan hati saya, bahkan sebelum saya sendiri mendengarnya. saya tidak perlu menjelek-jelek kan kepercayaan lain, untuk menambah iman saya. karena memang itu tidak perlu. iman saya nyata. dan keberadaanNya adalah nyata dalam kehidupan saya sehari-hari. di setiap hembus nafas, hangat matahari, dan kilau bintang yang boleh saya dapatkan setiap hari nya. apalagi yang perlu dibela ?

apakah saya menyesal , meninggalkan tempat itu ? yang saya sesali adalah karena saya harus rela kehilangan teman-teman yang super care dan super fun (but then.. i knew which one is my true friend since that) . yang saya sesali adalah bahwa saya tidak lagi bisa melihat anak-anak bayi yang dulu sering saya temui di situ ( and yes, i miss them.. ) . but seriously.. , yang saya tinggalkan adalah gedungnya. yang saya tinggalkan adalah tatacara nya. saya tidak akan meninggalkan Nya. saya tidak akan mungkin bisa.

so, here I am Padre. still belongs to you. and will always be like that.

Religion is what you act, not what you believe. *unknown

( this post is related to this )


Donnerstag, 18. November 2010

sometimes you get the lesson from where you less expect it

" Bagaimana, kamu menginginkan kematian mu ? "

Saya percaya, saya bukan satu-satunya di ruangan itu yang terkejut, saat pertanyaan itu dilontarkan. Sejenak hanya hening yang menguasai. Tidak ada bisikan atau percikan tawa yang biasanya terdengar di tengah ruang kuliah. Saya masih berusaha mengolah pertanyaan itu di otak sekali lagi, berusaha meyakinkan diri sendiri, apa yang saya pahami, sesuai dengan apa yang memang ingin dipertanyakan. Bagaimana , saya menginginkan kematian saya ? --
" Schnell und schmerzlos " , dua kata itu yang kemudian saya dengar dari dalam diri saya sendiri, sebagai jawaban. " Singkat dan tanpa rasa sakit " Itu adalah jawaban saya . Mungkin itu terkesan seperti suatu spontanitas, mengingat tidak sampai dua menit saya berpikir, dan muncullah pemikiran itu.. namun kalau saat ini, saya diberikan waktu lagi untuk berpikir secara jenak dan tidak usah tergesa-gesa, saya rasa jawaban saya masih akan tetap sama.
Saya ingin , saat kematian menjemput saya, saya tidak harus merasakan sakit, dan saya ingin, hal itu berjalan singkat.

Beberapa hari setelah nya, saya diberi kesempatan untuk berkenalan dengan seorang pasien. Seorang istri yang penuh hormat kepada suami nya, dan juga seorang Ibu untuk dua anak yang diadopsinya dari panti asuhan namun dirawatnya seperti anak-anak yang ia besarkan di rahim nya sendiri. Seorang pasien yang saat saya temui sedang merajut topi untuk bayi tetangga nya yang akan lahir kira-kira nanti seminggu sebelum natal. Dia mempersilakan saya duduk di sampingnya. Mengijinkan saya memeriksanya. Menjawab semua pertanyaan saya dengan lengkap dan jelas. Saya tidak mendengar sedikit pun rasa takut atau gentar dari suaranya. Saya tidak menangkap secuil pun rasa ragu atau takut maju dari binar matanya. Dari bibirnya, tidak pernah lewat satu kalimat pun tanpa senyum.
Ibu itu.. , harus merelakan satu indung telur nya diambil saat dia masih berusia 16 tahun. Satu tahun setelahnya, dia harus kembali merelakan indung telur sebelahnya. Saat usianya menginjak 30 tahun, saat di mana dia dan laki-laki yang dicintainya sudah hidup sebagai suami istri, dia harus merelakan rahim nya diangkat. Sejak hari itu dia belajar menerima kenyataan bahwa dalam hidupnya kali ini, dia tidak akan bisa melahirkan bayi-bayi dari rahim nya sendiri. Tapi itu bukan berarti dia tidak bisa melahirkan cinta untuk bayi-bayi yang dilahirkan dari rahim wanita lain. Perjuangannya tidak berhenti di situ. Tumor yang ada di perut nya seperti tidak ingin dimatikan. Beberapa tahun kemudian, usus besar nya harus dikeluarkan. Dan saat ini, sisa usus yang ada di perut nya hanya 60cm. Sementara sel kanker nya masih tetap terus menyebar, dan saat ini mulai menyerang ginjal nya, ada penyakit lain yang ditemukan yang menyerang pembuluh darah nya. Satu penyakit yang tidak sering ditemukan, dan jarang ditemukan pada wanita. Satu penyakit yang tentu saja semakin memperburuk keadaannya. Namun Ibu itu menceritakan semuanya kepada saya dengan tersenyum. Saya tidak tahu, kekuatan dan ketabahan dari mana yang dia punya. Saya tidak mengerti, daya dari mana yang merasuk di diri nya. Saya kagum, juga merasa malu. Parameter vital saya boleh jauh lebih stabil dari ibu itu. Daya tahan tubuh saya boleh lebih kuat dari ibu itu. Namun semangat hidup nya, namun ketabahannya menghadapi masalah, namun daya juangnya... jauh lebih besar dari yang saya punya. Saat waktunya saya harus pergi dan berpamitan dengan ibu itu, dia mengajukan pertanyaan kepada saya. Dengan suaranya yang ramah dia bertanya " menurut buku-buku dan ilmu yang kamu pelajari, berapa lama waktu yang masih saya punyai ? " Sejenak saya hanya bisa menatapnya. Menatap sosok wanita tegar dengan badan yang kecil dan terbalut jaket merah muda nya yang panjang.. Saya tidak mampu menjawabnya. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya.. tapi lebih karena saya tidak mau menjawabnya ! Lalu saya kembali mendekat padanya, meletakkan semua berkas dan alat-alat tulis saya di atas ranjangnya, dan saya memeluknya. Erat... erat sekali sampai saya sanggup merasakan denyut nadi nya. Lalu dia berkata pelan " masa bodoh dengan apa yang dikatakan buku-buku mu. saya akan tetap hidup sampai kapan saya diberi hidup. tidak akan ada yang tahu. tidak kamu. tidak dokter-dokter spesialis itu. tidak saya sendiri. cuma Dia yang tahu. "

tentang mati ... kadang orang merasa hal itu terlalu tabu dibicarakan. seperti suatu akhir dari segalanya, dan suatu momok yang sangat mengerikan. tapi benarkah begitu ?
tidak kah seharusnya kita lebih takut pada hidup, karena dari situ lah semuanya ditentukan?
kalau saya menjalani hidup ini sebaik mungkin.. kalau saya menghargai hidup ini sama seperti saya menghargai dan menghormati Pemberi nya.. saya rasa saya tidak akan perlu takut menghadapinya suatu saat nanti .. menghadapi kematian...

As long as You guide me, I shall be OK.