Selamat pagi, Cahaya !
terimakasih untuk bersinar, terimakasih untuk membuatku kembali terjaga.
Aku menantikan hari ini, lebih dari apapun. Aku sudah merencanakan semuanya untuk hari ini. Segala sesuatunya. Kalau kamu membuka agenda ku, dan membaca apa saja yang kucatat untuk hari ini, kamu akan mengerti, seberapa matang nya rencana ku. Kamu akan mengerti, bahwa tak akan ada satu hal pun kelewatan atau meleset dari yang direncanakan hari ini. Kali ini tak akan kubiarkan, hari berlalu dengan sia-sia, seperti hari-hari ku yang lalu. Hari ini beda, aku tahu.. hari ini semua akan sempurna, seperti apa yang kutuju. Aku tahu itu..
. . .
Sarapan. Aku tidak tahu lagi, kapan terakhir kali aku menikmati sarapanku. Beberapa tahun terakhir ini sarapan bagiku hanyalah suatu rutinitas yang mengganggu. Seandainya perut ku tidak harus dimasuki sarapan, mungkin aku akan lebih punya banyak waktu luang.. mungkin untuk tidur.. mungkin untuk bermimpi.. mungkin untuk membayangkan cinta ku. Namun ! Sarapan kali ini, sarapan hari ini.. aku menikmati setiap gigit dan telannya. Aku memilih kue untuk sarapan pagi ini. Tidak wajar memang. Tapi memang itulah yang sudah ku rencanakan, yang sudah kutulis di agenda ku untuk hari ini. Satu potong kue coklat dengan creme yang sangat manis dan berkalori tinggi, satu lembar roti Vollkorn yang kuolesi mentega tebal-tebal dan sehelai Schinken diatasnya, dan satu cangkir besar teh Roiboos beraroma madu. Itu adalah menu sarapanku hari ini, sesuai seperti yang sudah kurencanakan. Tidak akan kubiarkan satu detail pun terlewat, dari apa yang sudah tertulis di agenda ku. Tidak ! Hari ini harus beda. Hari ini harus sempurna. Aku tahu..
. . .
Saat ini aku sedang menunggu cucian ku selesai dicuci otomatis oleh mesincuci. Aku membuka-buka lagi album foto yang sudah lama tak kusentuh. Warna merah nya sudah berubah pudar dan kusam. Foto-foto yang ada di dalamnya juga sudah mulai pudar dan kehilangan warna. Putra-Putra ku.. jika kalian berdua membaca ini, suatu saat nanti, pastikan kalian membuka juga album foto itu. Di situ kalian masih balita. " Robby..,pelita hatiku. kamu adalah jelmaanku dalam bentuk laki-laki. Bibir mu tipis, seperti bibir ku. Rambutmu lurus pirang, seperti rambutku " " Gerry, bayi mungil ku.. lihatlah di foto itu, betapa manis nya kamu, putra ku. Kamu masih bayi di foto itu, namun lihatlah, tatapan mu tajam, seperti tatapan Papa mu. Rambutmu coklat dan berombak, sama seperti Papa mu. "
Putra-putra ku.. kalau kalian membaca ini, suatu saat nanti.. kenanglah akan masa-masa indah itu saja. Jangan pada kesalahan ku tak mampu menjadi Ibu yang baik. Jangan benci aku, putra-putra ku..aku memohon jangan kubur aku terus menerus dalam kebencian kalian.
. . .
Kegiatanku melihat-lihat foto dan bernostalgia sempat terhenti sebentar. Ariadne,tetangga baru ku, seorang mahasiswi kedokteran yang datang dari Indonesia, mengetuk daun pintu dan menengokkan kepalanya ke dalam kamarku. Dia menanyakan keadaanku hari ini, menanyakan apakah aku membutuhkan sesuatu. Aku menjawab " Semuanya baik-baik saja. Terimakasih. Semakin hari, akan semakin lebih baik ". Aku menjawabnya dengan senyum yang kulebarkan. Menyuarakan jawaban itu selantang mungkin. Biar dia tak mendengar kebohongan di suaraku. Biar dia tak curiga aku sedang merencanakan sesuatu, untuk hari yang istimewa ini.
. . .
Setelah kukenakan kaos polo hijau pastel bergaris-garis putih, dan celana kain warna hijau tua, aku memoleskan bedak dan sedikit perona pipi warna oranye. Aku merasa tidak yakin saat memoleskannya. Sudah terlalu lama, sejak terakhir kali aku berdandan. Kepercayaandiri untuk mempercantik diri itu sudah lama hilang. Namun aku ingin tampil cantik hari ini. Aku ingin menunjukkan sisiku yang lain. Bukan wajah yang keruh dah jiwa yang rapuh. Selesai ku bersiap, mulai kulangkahkan kaki keluar dari rumah menuju ke halte Bus. Aku ingin berjalan-jalan di pusat kota. Aku ingin tahu, barang-barang seperti apakah yang sekarang banyak dan laku dijual, warna apakah yang sangat digemari pada musim ini. Aku ingin tahu banyak hal.. apa yang manusia -- sesama ku lakukan, untuk membuat mereka bertahan di kehidupan yang serba munafik dan tak jujur ini. Aku sungguh .. ingin tahu ..
. . .
Selamat petang, Bulan !
Kamu tidak penuh malam ini. Kamu hanya seperti mengintip diam-diam. Dan temarammu, jatuh tepat ke seperempat meja tulis ku, di mana saat ini aku menuliskan semuanya ke dalam buku agenda ku. Tidak apa-apa, Bulan. Aku tak perlu penuh mu. Aku tak perlu sempurna mu. Karena tidak ada satu pun yang sempurna. Sama seperti ku, tidak sempurna.
Bulan, dengan munculnya kamu, dan dengan berhembus nya nocturno yang kamu bawa, lalu embun yang tanpa suara namun menetes, membias di luar kaca jendela ku, ini lah saatnya...
Hari ini sudah hampir berlalu. Siang yang sudah terlewati.. semua rencana ku yang sudah terpenuhi..
Ini lah saat istimewa itu. Ini lah saat, semua rasa sakit ini akan berakhir. Tidak ada lagi sakit, tidak ada khawatir, tidak ada ketakutan, tidak ada gelisah, tidak ada rindu, tidak ada kecewa..
Dan aku, aku akan bersatu kembali dengan satu cinta yang pernah nyata dalam hidupku.
Suami ku ,.. setelah puluhan pil-pil dan satu botol snaps ini masuk ke lambung ku.. aku akan mendekat pada mu.
Setelah puluhan pil-pil dan satu botol snaps ini masuk ke lambung ku.. Selamat tinggal hidup.. Selamat tinggal semua..
maafkan aku, putra-putra ku ...
aku mencintai kalian.
maafkan aku, ..
aku tidak lagi menginginkan hidup ini..
22. 6. 2010 , H. P.
untuk seorang tetangga, yang memutuskan untuk mengambil hidupnya sendiri.
untuk seorang tetangga, yang hidupnya pernah sarat dengan cinta.
dan saat cinta itu tiba-tiba harus diambil darinya, dia tidak pernah bisa mengikhlaskannya.
saya menyesalkan rasa kehilangan yang harus kamu tanggung, saya ikut berduka untuk semua kekosongan yang harus kamu rasakan. dan saya berharap, saya sungguh berharap.. bahwa kamu sekarang bisa mendapatkan yang terbaik. bahwa kamu sekarang tidak lagi perlu merasakan kepedihan yang lama mendera mu.
tapi maaf, saya tidak akan pernah menyetujui keputusan mu.
may you rest in peace, Frau P.
Freitag, 25. Juni 2010
Dienstag, 25. Mai 2010
rasa raksasa
saya ingin kembali
ke hari-hari, dimana kamu belum hadir dalam kehidupan saya.
bukan Sayang,
bukan karena ada cacat mu
yang tak bisa saya terima
toh mata ini buta di depan mu
untuk saya kamu tidak bercacat.
ini hanya karena saya
yang mempunyai rasa terlalu raksasa
namun tubuh dan jiwa yang masih kerdil
rasa itu jadi kerap tak terkendali
liar melayang kesana kemari
dan tanpa disadari
menggoreskan cakar-cakar nya yang tajam
, entah siapa saja dia lukai
entah berapa orang harus sakit
tergores
rasa
milik saya.
ini hanya karena saya
yang hanya ingin menyayangimu
namun berakhir membebanimu
rasa yang raksasa ini
seperti bukan pada tempatnya
seperti tidak seharusnya
namun katakanlah
bagaimana saya mengecilkannya ?
karena semakin hari semakin meraksasa dia !
saya ingin kembali
ke hari-hari dimana kamu belum hadir dalam hidup saya
dimana rasa itu belum lahir
dan tidak akan meraksasa
tidak akan ada yang terbebani
tidak akan ada yang tergores cakarnya.
Sayang,
cuma kamu yang sanggup membinasakan rasa ini
saya tahu cuma kamu pahlawannya
tolong, bunuh rasa raksasa
yang mengakar dalam diri saya ini.
everything was allright, everything was OK, and then you came...
ke hari-hari, dimana kamu belum hadir dalam kehidupan saya.
bukan Sayang,
bukan karena ada cacat mu
yang tak bisa saya terima
toh mata ini buta di depan mu
untuk saya kamu tidak bercacat.
ini hanya karena saya
yang mempunyai rasa terlalu raksasa
namun tubuh dan jiwa yang masih kerdil
rasa itu jadi kerap tak terkendali
liar melayang kesana kemari
dan tanpa disadari
menggoreskan cakar-cakar nya yang tajam
, entah siapa saja dia lukai
entah berapa orang harus sakit
tergores
rasa
milik saya.
ini hanya karena saya
yang hanya ingin menyayangimu
namun berakhir membebanimu
rasa yang raksasa ini
seperti bukan pada tempatnya
seperti tidak seharusnya
namun katakanlah
bagaimana saya mengecilkannya ?
karena semakin hari semakin meraksasa dia !
saya ingin kembali
ke hari-hari dimana kamu belum hadir dalam hidup saya
dimana rasa itu belum lahir
dan tidak akan meraksasa
tidak akan ada yang terbebani
tidak akan ada yang tergores cakarnya.
Sayang,
cuma kamu yang sanggup membinasakan rasa ini
saya tahu cuma kamu pahlawannya
tolong, bunuh rasa raksasa
yang mengakar dalam diri saya ini.
everything was allright, everything was OK, and then you came...
Mittwoch, 3. März 2010
dua puluh empat
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk darah dan air
yang berperan lebih dari sekedar substantia
namun oase
dari situ cinta bermuara.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk sayap besar
sayap kecil
yang selalu mengiringi
dalam semua jarak - laju - margin - titik - ruang
yang setia mengada
meski tak pernah dianggap ada.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk denyut - degup bersautan
cerebellum - peripher berlanjutan
akal - rasa bersamaan.
terimakasih
untuk Sumber dari segala sumber
Daya dari segala daya
Pusat dari segala pusat
karena dua puluh empat tidak tinggal diam
dua puluh empat tidak berhenti,
maka biarkan saya
tetap berpercaya di dalam Mu
biarkan saya
tetap berlindung di dalam Mu
sambil menunggu
angka angka lain yang masih boleh datang.
dua puluh empat ,
untuk darah dan air
yang berperan lebih dari sekedar substantia
namun oase
dari situ cinta bermuara.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk sayap besar
sayap kecil
yang selalu mengiringi
dalam semua jarak - laju - margin - titik - ruang
yang setia mengada
meski tak pernah dianggap ada.
terimakasih
dua puluh empat ,
untuk denyut - degup bersautan
cerebellum - peripher berlanjutan
akal - rasa bersamaan.
terimakasih
untuk Sumber dari segala sumber
Daya dari segala daya
Pusat dari segala pusat
karena dua puluh empat tidak tinggal diam
dua puluh empat tidak berhenti,
maka biarkan saya
tetap berpercaya di dalam Mu
biarkan saya
tetap berlindung di dalam Mu
sambil menunggu
angka angka lain yang masih boleh datang.
Dienstag, 16. Februar 2010
kata 'kata-kata'

apa yang menyebabkan,kata-kata jadi begitu mudah diciptakan?
komunikasi. adalah salah satu hal paling penting ( setidaknya menurut saya ) dalam interaksi antara dua pihak ( atau lebih ).
tentu saja komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti menunjukkan ekspresi, mimik, gerakan-gerakan anggota tubuh, intonasi, volume suara, atau hal-hal nonverbal lainnya. namun yang paling umum, komunikasi dilakukan dengan bahasa lisan, kata-kata yang dapat saling dimengerti oleh kedua belah pihak tersebut.
dengan semakin bertambahnya usia saya, makin banyak jumlah orang yang sudah saya temui dan kenali, dan tentu saja yang kemudian terlibat berkomunikasi baik verbal , nonverbal, maupun paraverbal dengan saya. dari situ saya menilai, betapa komunikasi lisan, yang berupa kata-kata, jauh lebih dominan daripada saudara-saudaranya, si nonverbal dan paraverbal itu tadi. kata-kata bisa dengan mudahnya menguasai lawan bicara, atau juga sebaliknya - sangat menguntungkan lawan bicara dan mempermalukan si penutur kata. semakin banyak kejadian yang saya alami, semakin takjub saya memperhatikan derajat kata-kata yang kian hari kian meninggi. orang tampak lebih senang dan puas menerima kata-kata itu bulat seperti ujudnya saja, bukan makna nya, bukan sari nya. semua orang bisa berkedok kata-kata, karena tidak ada indikator yang mampu mengetahui ke-tidak-pas an hati dan mulut. seorang munafik menyusun kata-kata serapi mungkin, menjadikan kata-kata itu berkualitas tinggi dan menyebarkan sihir, membuat orang yang mendengar mempercayainya seorang manusia setengah malaikat. seorang pencinta menyusun kata-kata menjadi barisan puisi untuk dipersembahkan ke pujaan hati. dipilihnya dengan teliti, kata-kata yang harumnya semerbak mawar, dan rasanya semanis madu. lalu dituliskannya rentetan puisi itu pada suatu lembar jingga, dan pada sudut kanan bawah lembar itu, tak lupa dia sematkan lagi kata-kata yang mengisyaratkan cinta. hanya nama saja dia palsukan, karena surat cinta itu tak ditujukan ke hanya satu orang saja. seorang pendoa melagukan kata-kata. dia menasihati dengan kata-kata.dia meneguhkan dengan kata-kata.dia mengutuk dengan kata-kata.pagi-siang-sore-malam, bangun tidur-sebelum makan-saat mandi-sesudah makan-sebelum tidur, diucapkan kata-kata yang dia sendiri tak semuanya paham.
apa yang menyebabkan, kata-kata begitu mudah diciptakan ?
orang makan kata-kata. minum kata-kata. mencinta kata-kata. tidur kata-kata.
janji yang tidak pernah ditepati... kata-kata.
hutang yang tidak pernah dilunasi... kata-kata.
cinta yang tidak pernah diresapi... kata-kata.
kepercayaan yang tidak pernah dihayati... kata-kata.
mungkin suatu saat, kita juga akan buang-air-kata-kata ??
( tadi pagi di Bus, saya duduk bersebelahan dengan anak kecil laki-laki sekitar umur 5 tahun. awalnya saya tidak begitu memerhatikan apa yang dia lakukan. namun dari ekor mata saya, saya tahu bahwa dia sedang memegang kotak bekal nya. karena tertarik dan ingin tahu, apa yang dia makan, saya lalu menengok ke arahnya. kemudian saya menyadari, dia sedang memasukkan tomat ke dalam mulutnya, mengunyahnya pelan-pelan, dan menangis ! kemudian saya melepas earphone MP3 player saya, dan bertanya apa dia baik2 saja. anak itu kemudian menjawab, dia tidak bisa menghabiskan tomat nya, dia sebenarnya tidak menyukai tomat sama sekali. lalu saya menengok ke samping, lalu ke belakang, mencari2 apakah anak tadi di bawah pengawasan orang yang memaksanya untuk menghabiskan tomatnya. tapi saya tidak melihat siapa-siapa. lalu saya kembali bertanya, siapa yang menyuruhnya menghabiskan tomat itu, dan apa alasannya. si anak dengan masih berusaha mengunyah tomat itu, dan menelannya, dan suara tangisnya yang makin terdengar, kemudian menjawab saya. Ayah nya lah yang membekali nya roti dan tomat, tomat HARUS dihabiskan, karena kalau tidak begitu, nenek nya yang di surga tidak akan mencintai nya lagi.
bagaimana seorang ayah bisa memanipulasi cerita macam itu , hanya agar anaknya menghabiskan bekal tomat nya ?? bagaimana kata-kata seperti itu bisa diciptakan, dan sangat menjadi beban untuk anak sekecil itu ?? )
PS : oh well, just if you'd like to know.. I ate the rest of his tomatoes and gave that boy my biscuits ~~'
Mittwoch, 23. Dezember 2009
(pre) xmas gift
satu , dua , tiga
sejak berapa lalu kah
kita tidak lagi bersentuh soma ?
aku tidak menghitungnya
tidak terpikir,
atau memang tidak ingin.
aku percaya dunia perkabelan
semakin bisa diandalkan
aku percaya ratusan mil itu
bisa didekatkan olehnya.
toh kamu pergi bukan karena menghindari
kamu pergi untuk cita mu
dan aku tinggal bukan karena mengkhianati
aku tinggal untuk impi ku.
namun kemarin itu,
tepat seminggu sebelum natal
saat kulitmu bisa terraba kulitku
saat wangimu bisa tercium hidungku
tak bisa kupungkiri betapa hati ini mensyukuri presensi
bukan menangkap gelombang suara saja dari telepon genggam
bukan mengerahkan otak saja membaca susunan huruf di depan komputer.
satu, dua, tiga
berapa depan lagi kah
kita tidak akan bersentuh soma ?
tidak apa,
aku percaya aku bisa mengandalkan masakini
karena suaramu bisa kudengar kapanpun ku tekan nomer mu
karena parasmu bisa kupandang kapanpun ku sambung internetku
tidak usah kamu pusingkan,tidak membawa kado natal apapun untukku. tidak usah kamu sedihkan kalau aku menghadiahi cardigan magenta idamanmu, dan kamu tidak memberiku apa-apa. kedatanganmu lah kado natal nya ! apa yang bisa lebih aku inginkan dibanding minum Feuerzangenbowle berdua dengan mu di tengah salju pada suhu -14° celsius ? apa yang bisa lebih aku rindukan dibanding perbincangan dengan seorang sahabat yang membuka hati dan telinganya mendengarkan cerita ku ?
hey you there, you know I don't promise, but you'll see me this march.. You'll see me face to face, not via voice chat -LOL- until we meet again, take good care of yourself, sista !!
sejak berapa lalu kah
kita tidak lagi bersentuh soma ?
aku tidak menghitungnya
tidak terpikir,
atau memang tidak ingin.
aku percaya dunia perkabelan
semakin bisa diandalkan
aku percaya ratusan mil itu
bisa didekatkan olehnya.
toh kamu pergi bukan karena menghindari
kamu pergi untuk cita mu
dan aku tinggal bukan karena mengkhianati
aku tinggal untuk impi ku.
namun kemarin itu,
tepat seminggu sebelum natal
saat kulitmu bisa terraba kulitku
saat wangimu bisa tercium hidungku
tak bisa kupungkiri betapa hati ini mensyukuri presensi
bukan menangkap gelombang suara saja dari telepon genggam
bukan mengerahkan otak saja membaca susunan huruf di depan komputer.
satu, dua, tiga
berapa depan lagi kah
kita tidak akan bersentuh soma ?
tidak apa,
aku percaya aku bisa mengandalkan masakini
karena suaramu bisa kudengar kapanpun ku tekan nomer mu
karena parasmu bisa kupandang kapanpun ku sambung internetku
tapi tibatiba sekarang aku ingin tidur di dekat mu
rebutan selimut dan membiarkan bantalku dipakai oleh mu
menepuk-nepuk pipimu saat kamu mulai tidur padahal aku masih bercerita,
dan aku tidak tahu.. tekhnologi mana yang mampu menghadirkanmu ke sini saat ini juga ?!
rebutan selimut dan membiarkan bantalku dipakai oleh mu
menepuk-nepuk pipimu saat kamu mulai tidur padahal aku masih bercerita,
dan aku tidak tahu.. tekhnologi mana yang mampu menghadirkanmu ke sini saat ini juga ?!
tidak usah kamu pusingkan,tidak membawa kado natal apapun untukku. tidak usah kamu sedihkan kalau aku menghadiahi cardigan magenta idamanmu, dan kamu tidak memberiku apa-apa. kedatanganmu lah kado natal nya ! apa yang bisa lebih aku inginkan dibanding minum Feuerzangenbowle berdua dengan mu di tengah salju pada suhu -14° celsius ? apa yang bisa lebih aku rindukan dibanding perbincangan dengan seorang sahabat yang membuka hati dan telinganya mendengarkan cerita ku ?
hey you there, you know I don't promise, but you'll see me this march.. You'll see me face to face, not via voice chat -LOL- until we meet again, take good care of yourself, sista !!
Freitag, 18. Dezember 2009
sempat lupa
sepertinya saya sempat lupa, bahwa tujuan utama saya menulis di blog ini adalah untuk kesejahteraan lahir dan batin saya sendiri. sepertinya saya sempat lupa, bahwa blog ini memang di'ada'kan, untuk diisi dengan hal-hal yang tidak mampu saya tuangkan dengan tutur kata. saya sempat lupa, blog ini memang di'lahir'kan oleh saya, untuk meniadakan limit-limit yang harus selalu membatasi kebebasan saya berkomunikasi kepada orang lain.
beberapa waktu lalu,seorang teman sempat menemukan blog saya ini. saya tidak terlalu suka dengan hal itu. saya beranggapan, dia belum cukup bijak, untuk membaca semua postingan saya dengan netral, dengan tanpa sesudahnya merasa diprovokasi. kenyataan bahwa teman saya menemukan blog ini, dan adanya kemungkinan dia akan memberitahukan blog saya ini ke teman saya yang lain, cukup membuat saya kesal. sebegitu kesal dan sebegitu lupa nya saya pada tujuan awal menulis di blog, sehingga saya mengganti blog address saya. setelah mengganti nya, saya sudah menjadi sedikit lebih tenang. namun entah kenapa, saya jadi malas untuk menulis di blog ini lagi, dengan alasan malas dibaca oleh teman saya itu, kalau-kalau saja dia berhasil menemukan blog address saya yang baru.
hari ini, kira-kira dua jam yang lalu. saya menyadari kebodohan dan kealpaan saya. saya menyadari betapa saya lupa, akan motivasi awal yang saya punyai sendiri. saya hanya ingin menulis, apa yang tidak mampu saya katakan. saya ingin menulis, hal-hal yang mungkin orang lain tidak ingin mendengarnya. saya ingin menulis tanpa dihambat toleransi untuk tidak menyakiti lawan bicara saya. jadi saya merubah lagi blog address saya, ke alamat yang semula, yang orisinil.
seandainya seorang teman itu datang kembali dan membaca.. biarlah dia membaca, apa yang saya tulis. dan biarlah dia menarik kesimpulan, sesuai apa yang pikirannya simpulkan. biarkan dia senang, kalau dia merasa tersanjung atas apa yang saya tulis. biarkan dia marah dan benci, kalau dia merasa saya menjelekkan dia. biarlah dia tidak terlindungi dari kebenaran pendapat yang seringkali saya batasi dalam perkataan-perkataan saya.
PS : untuk kamu, kalau kamu membaca ini dan menyadari yang dimaksud di sini adalah kamu.. , thanx lhoh sudah mampir dan menyempatkan untuk baca. behalt bitte deine eigene vorurteile.
beberapa waktu lalu,seorang teman sempat menemukan blog saya ini. saya tidak terlalu suka dengan hal itu. saya beranggapan, dia belum cukup bijak, untuk membaca semua postingan saya dengan netral, dengan tanpa sesudahnya merasa diprovokasi. kenyataan bahwa teman saya menemukan blog ini, dan adanya kemungkinan dia akan memberitahukan blog saya ini ke teman saya yang lain, cukup membuat saya kesal. sebegitu kesal dan sebegitu lupa nya saya pada tujuan awal menulis di blog, sehingga saya mengganti blog address saya. setelah mengganti nya, saya sudah menjadi sedikit lebih tenang. namun entah kenapa, saya jadi malas untuk menulis di blog ini lagi, dengan alasan malas dibaca oleh teman saya itu, kalau-kalau saja dia berhasil menemukan blog address saya yang baru.
hari ini, kira-kira dua jam yang lalu. saya menyadari kebodohan dan kealpaan saya. saya menyadari betapa saya lupa, akan motivasi awal yang saya punyai sendiri. saya hanya ingin menulis, apa yang tidak mampu saya katakan. saya ingin menulis, hal-hal yang mungkin orang lain tidak ingin mendengarnya. saya ingin menulis tanpa dihambat toleransi untuk tidak menyakiti lawan bicara saya. jadi saya merubah lagi blog address saya, ke alamat yang semula, yang orisinil.
seandainya seorang teman itu datang kembali dan membaca.. biarlah dia membaca, apa yang saya tulis. dan biarlah dia menarik kesimpulan, sesuai apa yang pikirannya simpulkan. biarkan dia senang, kalau dia merasa tersanjung atas apa yang saya tulis. biarkan dia marah dan benci, kalau dia merasa saya menjelekkan dia. biarlah dia tidak terlindungi dari kebenaran pendapat yang seringkali saya batasi dalam perkataan-perkataan saya.
PS : untuk kamu, kalau kamu membaca ini dan menyadari yang dimaksud di sini adalah kamu.. , thanx lhoh sudah mampir dan menyempatkan untuk baca. behalt bitte deine eigene vorurteile.
Donnerstag, 12. November 2009
belajar melepaskan
Seandainya dua tahun lalu, tidak pernah saya terima E-mail itu, maka hari ini akan bertambah usia mu satu tahun lagi. Seandainya, kabar itu memang tidak pernah ada, mungkin hari ini sudah dua gelar sarjana kamu sandang, mungkin kamu sudah bekerja di perusahaan impian mu, dan cuti pertamanya sudah kamu ambil, untuk mengunjungi ku di sini, lalu bersama-sama kita keliling Eropa, seperti yang pernah kita impikan.
Adalah kenyataan yang seperti selalu sembunyi di tempat lain, sedangkan manusia hanya berkutat pada perandaian yang diciptakan imaji nya saja. Seperti saya, yang meskipun sudah hampir genap dua tahun, masih susah menerima kenyataan -- kepergianmu. Meskipun mata ini tidak lagi berair. Meskipun saya tidak lagi bangun di malam hari karena bermimpi tentang mu. Meskipun saya tidak lagi gila,setiap saat mengecek apakah messenger mu online atau tidak. Meskipun saya berusaha mencoba mengerti, sungguh mengerahkan semua tenaga untuk mencoba memahami, tapi kenyataannya saya tidak pernah bisa benar-benar mengerti. Kenyataannya adalah yang saya bisa hanya merelakan dan menerima kepergianmu.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, saya tidak tahu, di mana , bagaimana, dan siapakah kamu sekarang. Saya tidak tahu, apa kamu mendengar saat nama mu saya sebutkan di doa sebelum tidur saya. Saya tidak tahu, apa doa-doa itu dan semua kenangan punya kita yang masih saya simpan rapi, cukup membuatmu merasa lebih tenang, merasa lebih bahagia. Bahagia kah kamu di sana ? Tidak ada kah sedikitpun rindu menyeruak di dada mu ?
Apakah kamu, di suatu tempat nun jauh di sana, masih sempat mengamati kami di sini ?
Tahu kah kamu apa-apa saja yang terjadi sejak kamu berhenti mengada di tengah-tengah kami?
Teman-teman kuliah mu menanam sebuah pohon di kampus kalian, dan menamai pohon itu Christy.. diambil dari nama tengah mu. Saya mau kamu tahu, mereka kehilangan kamu ! Kehidupan beberapa dari mereka sempat terhenti sejenak, seakan ingin berontak pada realita di mana kamu tiba-tiba meraib. Mereka merindukan senyumanmu, tim kerja mu di laboratorium masih membutuhkan kerjasama dan suara mu yang riang.
Orangtua mu sempat mengasingkan diri. Mereka pergi jauh sekali dari rumah dulu kamu tinggal dan tumbuh besar. Mereka pergi untuk mengobati diri mereka sendiri. Mengobati diri dari luka yang tidak tampak dan tidak bisa disembuhkan dengan obat atau operasi. Mereka menghindari sudut, aroma, bebunyian atau apapun yang menoreh ingatan tentang mu. Itu dulu.. Namun tenanglah, kamu bisa berbangga akan mereka. Sekarang mereka sudah jauh lebih legawa. Mereka, mungkin seperti halnya saya, mencoba untuk menerima kenyataan.. tanpa bisa memahami nya.
Saya ? Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya melewati beberapa tahap dengan perasaan yang berbeda-beda. Awalnya saya marah, sangat-sangat marah. Saya menganggap mu picik dan berpikir sempit. Setahu saya, kamu adalah orang yang berpikiran optimis dan selalu memberi motivasi kepada saya. Keputusan terakhir mu itu adalah hal yang membuat saya merasa dikhianati. Keputusan mu untuk berbuat seolah kamu adalah Shinigami atau sesuatu lain yang bahkan lebih berkuasa. Keputusan mu untuk memutuskan rantai hidup mu sendiri dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya tidak akan pernah mengerti, apakah gengsi atau keputus-asa-an akan cinta, yang lebih membunuhmu saat itu. Kemarahaan saya mereda dengan muncul nya rasa bersalah dalam diri saya. Saya menyalahkan diri saya sendiri, karena menjadi seorang teman yang tidak becus. Saya bertanya-tanya, seandainya saja saya lebih sering menghubungi mu, apakah kamu akan menceritakan semua masalah mu ? Seandainya saat itu kamu bisa berbagi dengan saya, apakah itu akan meringankan beban mu ? Seandainya saya lebih perhatian, apa kamu masih akan mengada sampai sekarang ? Kemunculan rasa bersalah itu tidak sendirian. Saya juga menyalahkan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan dalam doa saya kutuk habis-habisan. Saya meninginkan dia tidak akan pernah lagi mendapatkan cinta. Dia sudah membuang kamu, dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya menginginkan dia tidak akan pernah akan bisa merasakan bagaimana dicintai oleh seorang anak. Marah - kecewa - kehilangan - rasa bersalah . Perasaan itu yang selalu mondar-mandir di dalam diri saya. Sampai akhirnya waktu mempertemukan saya dan papa kamu. Dia menunjukkan foto mu. Kamu tetap cantik seperti saat kamu masih hangat dan bernapas. Melihat mu di foto itu seperti membangunkan saya dari mimpi. Sumber dari segala marah, kecewa, kehilangan, dan rasa bersalah itu bukanlah kamu, namun diri saya sendiri. Saya yang terlalu egois dan tidak mau percaya bahwa kamu tidak ada lagi bersama saya di sini. Parasmu yang hanya tampak tertidur namun tenang, tidak menunjukkan duka, tidak menunjukkan sakit, membuat saya sadar bahwa airmata saya yang akan menghambat bahagiamu. Dari saat itu saya belajar merelakan, menerima.. meskipun tidak akan pernah saya mengerti atau saya setujui cara pikir mu menarik keputusan terakhir itu. Keputusan terakhir mu, yang membuat jarak kita bukan hanya terpisah benua, namun antara hidup dan mati.
* untuk seorang teman, seorang saudara, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di bulan Desember 2 tahun lalu. " hey Sist, I still miss you.. I hope my prayers can reach you. till we meet again, Sist ! "
** untuk semua yang membaca ini.. Suicide is not the solution of your problem !!
Adalah kenyataan yang seperti selalu sembunyi di tempat lain, sedangkan manusia hanya berkutat pada perandaian yang diciptakan imaji nya saja. Seperti saya, yang meskipun sudah hampir genap dua tahun, masih susah menerima kenyataan -- kepergianmu. Meskipun mata ini tidak lagi berair. Meskipun saya tidak lagi bangun di malam hari karena bermimpi tentang mu. Meskipun saya tidak lagi gila,setiap saat mengecek apakah messenger mu online atau tidak. Meskipun saya berusaha mencoba mengerti, sungguh mengerahkan semua tenaga untuk mencoba memahami, tapi kenyataannya saya tidak pernah bisa benar-benar mengerti. Kenyataannya adalah yang saya bisa hanya merelakan dan menerima kepergianmu.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, saya tidak tahu, di mana , bagaimana, dan siapakah kamu sekarang. Saya tidak tahu, apa kamu mendengar saat nama mu saya sebutkan di doa sebelum tidur saya. Saya tidak tahu, apa doa-doa itu dan semua kenangan punya kita yang masih saya simpan rapi, cukup membuatmu merasa lebih tenang, merasa lebih bahagia. Bahagia kah kamu di sana ? Tidak ada kah sedikitpun rindu menyeruak di dada mu ?
Apakah kamu, di suatu tempat nun jauh di sana, masih sempat mengamati kami di sini ?
Tahu kah kamu apa-apa saja yang terjadi sejak kamu berhenti mengada di tengah-tengah kami?
Teman-teman kuliah mu menanam sebuah pohon di kampus kalian, dan menamai pohon itu Christy.. diambil dari nama tengah mu. Saya mau kamu tahu, mereka kehilangan kamu ! Kehidupan beberapa dari mereka sempat terhenti sejenak, seakan ingin berontak pada realita di mana kamu tiba-tiba meraib. Mereka merindukan senyumanmu, tim kerja mu di laboratorium masih membutuhkan kerjasama dan suara mu yang riang.
Orangtua mu sempat mengasingkan diri. Mereka pergi jauh sekali dari rumah dulu kamu tinggal dan tumbuh besar. Mereka pergi untuk mengobati diri mereka sendiri. Mengobati diri dari luka yang tidak tampak dan tidak bisa disembuhkan dengan obat atau operasi. Mereka menghindari sudut, aroma, bebunyian atau apapun yang menoreh ingatan tentang mu. Itu dulu.. Namun tenanglah, kamu bisa berbangga akan mereka. Sekarang mereka sudah jauh lebih legawa. Mereka, mungkin seperti halnya saya, mencoba untuk menerima kenyataan.. tanpa bisa memahami nya.
Saya ? Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya melewati beberapa tahap dengan perasaan yang berbeda-beda. Awalnya saya marah, sangat-sangat marah. Saya menganggap mu picik dan berpikir sempit. Setahu saya, kamu adalah orang yang berpikiran optimis dan selalu memberi motivasi kepada saya. Keputusan terakhir mu itu adalah hal yang membuat saya merasa dikhianati. Keputusan mu untuk berbuat seolah kamu adalah Shinigami atau sesuatu lain yang bahkan lebih berkuasa. Keputusan mu untuk memutuskan rantai hidup mu sendiri dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya tidak akan pernah mengerti, apakah gengsi atau keputus-asa-an akan cinta, yang lebih membunuhmu saat itu. Kemarahaan saya mereda dengan muncul nya rasa bersalah dalam diri saya. Saya menyalahkan diri saya sendiri, karena menjadi seorang teman yang tidak becus. Saya bertanya-tanya, seandainya saja saya lebih sering menghubungi mu, apakah kamu akan menceritakan semua masalah mu ? Seandainya saat itu kamu bisa berbagi dengan saya, apakah itu akan meringankan beban mu ? Seandainya saya lebih perhatian, apa kamu masih akan mengada sampai sekarang ? Kemunculan rasa bersalah itu tidak sendirian. Saya juga menyalahkan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan dalam doa saya kutuk habis-habisan. Saya meninginkan dia tidak akan pernah lagi mendapatkan cinta. Dia sudah membuang kamu, dan benih kecil yang sedang mencoba hidup di dalam mu. Saya menginginkan dia tidak akan pernah akan bisa merasakan bagaimana dicintai oleh seorang anak. Marah - kecewa - kehilangan - rasa bersalah . Perasaan itu yang selalu mondar-mandir di dalam diri saya. Sampai akhirnya waktu mempertemukan saya dan papa kamu. Dia menunjukkan foto mu. Kamu tetap cantik seperti saat kamu masih hangat dan bernapas. Melihat mu di foto itu seperti membangunkan saya dari mimpi. Sumber dari segala marah, kecewa, kehilangan, dan rasa bersalah itu bukanlah kamu, namun diri saya sendiri. Saya yang terlalu egois dan tidak mau percaya bahwa kamu tidak ada lagi bersama saya di sini. Parasmu yang hanya tampak tertidur namun tenang, tidak menunjukkan duka, tidak menunjukkan sakit, membuat saya sadar bahwa airmata saya yang akan menghambat bahagiamu. Dari saat itu saya belajar merelakan, menerima.. meskipun tidak akan pernah saya mengerti atau saya setujui cara pikir mu menarik keputusan terakhir itu. Keputusan terakhir mu, yang membuat jarak kita bukan hanya terpisah benua, namun antara hidup dan mati.
* untuk seorang teman, seorang saudara, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di bulan Desember 2 tahun lalu. " hey Sist, I still miss you.. I hope my prayers can reach you. till we meet again, Sist ! "
** untuk semua yang membaca ini.. Suicide is not the solution of your problem !!
Abonnieren
Posts (Atom)